Meningkatkan Persaudaraan dalam MAKRAB (Malam Keakraban)


Hubungan antara manusia satu dengan lainnya sangatlah penting. Keduanya akan saling membutuhkan dan akhirnya timbul rasa bergantung. Begitu pula dengan para mahasiswa baru di Politeknik LPP Yogyakarta. Selain menimba ilmu, kehidupan bersosial juga dianggap penting peranannya. Mereka akan menciptakan suasana akrab dan dekat sebagai teman seperjuangan.

Di beberapa kampus, banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Namun, ada satu kegiatan yang paling populer yaitu Malam Keakraban (Makrab). Kegiatan ini biasanya menjadi program utama himpunan di Politeknik LPP Yogyakarta.

Secara konsep, tujuan masing-masing himpunan relatif sama yaitu agar mahasiswa baru mengenal teman seperjuangan dan kakak tingkat mulai dari para panitia, PU (Penanggungjawab Umum), DPO (Dewan Pertimbangan Organisasi) hingga Demisioner (kakak tingkat yang akan lulus/ wisuda). sedangkan tujuan  lain dari kegiatan ini yaitu menciptakan kenyamanan bersosial diantara individu.

Oleh karena itu, kegiatan malam keakraban ini selalu dilaksanakan setiap tahun dan wajib diikuti oleh seluruh anggota himpunan yang belum pernah mengikutinya.

 

Penulis  : Ayu Paramitha

Sumber :  Ayu Paramitha

 

Studi Ilmiah SMK Gula Rajawali Madiun di Politeknik LPP Yogyakarta


Suasana kampus Politeknik LPP Yogyakarta yang biasanya ramai dengan mahasiswa berseragam coklat khas perkebunan hari Jumat, 20 Oktober 2017, ini tampak berbeda dengan adanya kunjungan para siswa SMK dengan seragam putih abu-abu. SMK Gula Rajawali Madiun, sebuah sekolah menengah kejuruan yang didirikan oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia mengawali rangkaian studi ilmiahnya ke Yogyakarta dengan mengunjungi Politeknik LPP. Dengan disambut oleh Wakil Direktur I Politeknik LPP, Ibu Ratna Sri Harjanti, ST, M.Eng dan Wakil Direktur III Politeknik LPP, Bapak Rifai Rahman Saputro, sebanyak 39 siswa siswi kelas 11 dan 8 guru pendamping serta kepala sekolah berkunjung untuk melihat langsung kampus Politeknik LPP Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-10-28 at 8.02.21 AM

Bapak Suparmanu, Kepala Sekolah SMK Gula Rajawali Madiun menyampaikan maksud studi ilmiah yakni memberikan gambaran bagi para siswa siswi SMK Gula Rajawali untuk kelak dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di Politeknik LPP Yogyakarta seperti halnya 11 alumni SMK Gula Rajawali yang pada saat ini sedang menempuh pendidikan di Politeknik LPP Yogyakarta. Harapan SMK Gula Rajawali agar kedepannya dapat meningkatkan jalinan kerjasama pengembangan SDM Perkebunan dengan Politeknik LPP Yogyakarta. Selain itu beliau juga berharap agar ada skema pelatihan bagi para guru SMK Gula Rajawali Madiun untuk meningkatkan kompetensi mereka sebagai tenaga pengajar sekolah menengah khusus di sektor perkebunan.

Dalam kesempatan tersebut, kedua belah pihak juga sepakat untuk meningkatkan jalinan kerjasama dengan penandatanganan MoU kerjasama. Adapun bidang kerjasama yang disasar adalah untuk pengembangan kompetensi, penyaluran lulusan hingga kajian kurikulum guna meningkatkan mutu pendidikan kejuruan. Dengan didamping staf Politeknik LPP, para siswa dan guru SMK Gula Rajawali mengakhiri kunjungannya dengan campus tour untuk melihat dari dekat sistem pembelajaran dan fasilitas-fasilitas penunjang pembelajaran yang akan mereka nikmati kelak jika memilih untuk berkuliah di Politeknik LPP Yogyakarta. (LCP)

Investor Maroko Tanamkan US$800 Juta untuk Pabrik Gula Terintegrasi


Konglomerasi dari Maroko Grup GDTC menanamkan modal sebesar US$800 juta di Indonesia untuk membangun perkebunan tebu dan 2 pabrik gula yang terintegrasi dengan peternakan sapi potong seluas 20.000 ha di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Perusahaan baru di bawah naungan GDTC Grup itu bernama PT GDTC Majestic Agro Industri. Perkebunan tebu itu diproyeksikan akan panen pertama pada dua tahun dari sekarang. Oleh karena saat ini masih dalam tahap perbibitan tebu.

Chairman of the Board of the Directors GDTC Investments Ahmad Bin Zuhir Bin Mohammad Bin Jaber Al Natour mengatakan dia tertarik untuk berinvestasi karena ada peluang dalam industri gula Indonesia.

“Tahun lalu total konsumsi gula Indonesia itu sekitar 5,7 juta kg sedangkan pasokan dalam negeri hanya ada sekitar 3,5 juta ton. Alhasil harus mengimpor gula sebesar 2,2 juta ton,” katanya kepada Bisnis Selasa (3/4).

GDTC memperkirakan untuk tahun ini kebutuhan gula Indonesia akan meningkat 25% atau sekitar 7,1 juta ton. Jumlah tersebut dibagi menjadi dua sektor, gula untuk konsumsi langsung sebesar 3,5 juta ton sedangkan gula untuk industri sebesar 3,6 juta ton.

Dengan mempertimbangkan kesenjangan tersebut dan stimulasi dari pemerintah yang terbuka untuk PMA bagi Industri gula, Ahmad mau menanamkan investasi di dalam negeri untuk pengembangan perkebunan tebu sekaligus pabrik gula.

PT. GDTC Majestic Agro Industri akan memiliki 2 unit pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 99 ha. Pabrik tersebut akan beroperasi selama 200 hari dengan kapasitas 6.000 TCD. Sementara perkebunan tebu seluas 20.000 ha diperkirakan akan menghasilkan gula 600 ton per hari atau sekitar 110.000 per tahun.

sumber: bisnis.com

Bertemu Dubes Uni Eropa, Jokowi Kembali Singgung Isu Kelapa Sawit


Gambar : Presiden Jokowi menerima surat kepercayaan salah seorang dari 11 duta besar negara sahabat, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/4) siang. (Foto: setkab)

 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima Surat Kepercayaan dari 11 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Designate Resident dan Designate Non Resident untuk RI di Istana Merdeka, Jakarta.

Ke-11 Dubes tersebut berasal dari negara Teluk (Bahrain), Uni Eropa (Rusia, Georgia, Latvia dan Polandia), Asia (Korea Selatan, Australia dan Fiji) dan Benua Afrika (Uganda, Gambia, dan Ivory Coast).

Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan, usai penyerahan surat kepercayaan, Jokowi dan para dubes membahas kerja sama ekonomi.

“Dalam pembicaraan satu per satu para dubes dengan presiden secara umum disampaikan bahwa kerja sama ekonomi dengan semua negara menjadi prioritas bagi Indonesia,” ujar Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Khusus dengan para dubes dari Uni Eropa, kata Retno, Jokowi menekankan pentingnya kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan kedua negara. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga meminta agar Uni Eropa memperhatikan kembali resolusi sawit.

“Indonesia meminta kembali perhatian mengenai masalah kelapa sawit,” ucapnya.

Terhadap Dubes Rusia, Kepala Negara berharap kerja sama di sektor perdagangan kedua negara terus ditingkatkan. Saat ini angka perdagangan Indonesia ke Rusia hanya sekitar dua sampai tiga miliar, ke depan ditargetkan menyentuh lima miliar.

“Dalam pertemuan kita sampaikan proposal untuk negoisasi eurasian di mana Rusia menjadi negara anggota. Dan kami sampaikan agar Rusia terus dukung Indonesia dalam rangka pengembangan ekonomi dengan Eurasian Economic Union (EAEU),” jelas Retno.

Sementara dengan Korea Selatan, Jokowi menekankan pada ekselerasi industri. “Presiden minta fokus akselerasi ini dilanjutkan jadi fokus kerja sama,” pungkas Retno.

Sebelumnya, negara penghasil kelapa sawit masing-masing Malaysia, Indonesia dan Thailand mengancam akan membalas Uni Eropa (UE) jika terus mendiskriminasi dan menyerang industri minyak sawit dengan mengeluarkan komoditi tersebut dari program biodieselnya.

sumber: liputan6.com

HPP Gula Naik ke Rp10.000, HET Harus Naik agar Petani Ikut Menikmati


PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI menilai rencana kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP) gula petani ke Rp10.000 oleh pemerintah harus diimbangi dengan kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) agar petani tidak merugi.

Plt Direktur Utama PTPN XI Daniyanto mengatakan dengan kenaikan HET gula di pasar diatas Rp.12.500/kg  akan mendorong petani untuk terus menanam tebu dan meningkatkan produksi kebun seiring meningkatnya HPP.

Peningkatan HPP Petani akan cukup menekan petani di saat harga gula di pasar dikontrol Pemerintah.

 

Hasil gambar untuk harga gula

 

“Rencana menaikan HPP ini bagus dan positif, tapi kalau HPP naik tapi harga di pasar tidak naik, ini malah akan membuat petani dan industri tidak bersemangat karena marginnya akan sangat tipis,” katanya kepada Bisnis, Senin (26/3/2018).

Menurut hitungan PTPN XI, bila HPP petani dipatok Rp10.000, setidaknya HET di pasaran dipatok sekitar Rp13.500/kg.

Januari lalu, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil pernah meminta pemerintah mengevaluasi lagi HET Rp12.500 karena tidak sebanding dengan HPP petani Rp9.100.

Dalm pertemuan terakhir ini antara PTPN XI dengan petani tebu, mereka menginginkan HPP petani adalah Rp11.000.

 

Sumber: bisnis.com

RESIMEN MAHASISWA MAHAKARTA SATUAN POLITEKNIK LPP ANGKATAN I TAHUN 2018


MENWA TAHUN PERDANA

Tahun pertama merupakan tahun sakral yang paling bernilai dan berarti. Bertepatan dengan kalimat itu, tahun 2018 ini menjadi tahun yang istimewa bagi Politeknik LPP Yogyakarta yang baru resmi memiliki Resimen Mahasiswa kali perdana. MENWA ini merupakan hasil civitas akademik badan eksekutif mahasiswa bersama Bapak Rifa’i Rachman Saputro selaku Wadir III bidang kemahasiswaan, Bapak Saktiyono Sigit Pamungkas staf wadir III bidang kemahasiswaan, dan Bapak Achmad Toyibun selaku Presiden Mahasiswa, untuk mewujudkan peraturan pementintah berkenaan dengan setiap perguruan tinggi diwajibkan memiliki organisasi legal yang bergerak di bidang Bela Negara.

MENWA perdana ini beranggotakan tujuh pandawa yang karena semangatnya menjadi anggota dalam MENWA yang baru terbentuk ini. Mereka diantaranya addalah M. Sapril Sitepu, Agung Abdinoto, Wahyudi, Hendrikus Hendri, Dimas Ruan Dhanu, Jaka Prasetya, dan Achad Syafi’i.

Bapak Rifa’i mengatakan bahwa “Menjadi seorang anggota MENWA bukanlah suatu pekerjaan yang mudah melainkan penuh tantangan yang didalamnya diperlukan totalitas, loyalitas, serta tanggung jawab yang sangat besar untuk mengemban tugas dan amanah menjadi seorang pemuda sekaligus pejuang, menjadi pemikir sekaligus komponen cadangan untuk mempertahankan negara apabila dibutuhkan sewaktu-waktu jika terjadi situasi yang tidak terduga”.

Selayaknya di tahun pertama dengan dimulainya segala sesuatu yang baru, MENWA ini tidak terbentuk secara semerta-merta melainkan terdapat perjuangan keras dibaliknya. Banyak tahapan yang dilakukan melalui serangkaian proses yang harus dilewati untuk menjadikan calon pandawa tersebut menjadi anggota MENWA sejati.

gbr 2

Setelah dilakukannya seleksi terlebih dahulu di Politeknik LPP Yogyakarta, tahap pertama yang harus dilalui para calon pandawa ini adalah Pra Pendidikan Dasar yang merupakan sebuah kegiatan yang mana para calon anggota dibentuk dengan pembekalan materi awal yang dibutuhkan saat pelatihan. Dalam tahap ini bertepatan dengan tanggal 20 Februari 2018, Politeknik LPP bergabung bersama beberapa universitas lain yang juga melakukan hal serupa seperti STTA, dan STTNAS.

Selanjutnya pada kegiatan Pendidikan Dasar  yang diselenggarakan di Rindam IV Diponegoro Magelang yang diikuti oleh 22 universitas lainnya dengan tujuan untuk melatih fisik dan mental serta untuk dibina secara disiplin, pengarahan cara berkomunikasi atau memberi instruksi yang baik di depan khalayak ramai, cara bertahan dihidup di kondisi yang tidak memungkinkan seperti di hutan dan kehabisan bahan makanan, cara berfikir menyelesaikan masalah pada keadaan mendesak, dan yang paling penting adalah upaya dasar Bela Negara ini dilatih langsung oleh para TNI.

Rangkaian kegiatan terakhir yang dilaksanakan adalah berupa Pembaretan dimana kegiatan ini merupakan sebuah tradisi yang turun temurun. Kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan penutup dari serangkaian acara yang telah dilakukan.

Dengan serangkaian kegiatan tersebut, calon anggota MENWA yang dilatih sudah resmi dilantik sebagai anggota MENWA resmi yang siap dipulangkan kembali ke universitasnya masing-masing dan siap berdedikasi penuh untuk kampusnya serta tanah airnya. Adapun tugas dan tanggung jawab ketujuh anggota MENWA ini adalah sama seperti MENWA di wilayah kerja DIY ditambah tugas yang dibebankan oleh kampus.

gbr 1 gbr 3

Sawit Adalah Aset Negara


Industri sawit nasional dapat diperkuat melalui konsep Indonesia Incorporated. Dengan konsep ini, keberpihakan seluruh komponen bangsa sangat menentukan keberhasilan pengelolaan komoditas unggulan rakyat dari serangan isu negatif serta hambatan ekspor.

Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) Christianto Wibisono, Indonesia Incorporated adalah budaya kerja yang harus diwujudkan untuk pembangunan ekonomi dan upayanya konstitusional. Untuk itu, peran Presiden, Kepala Daerah dan para pemangku kepentingan sangat penting untuk membangun kesatuan ekonomi nasional yang terorganisir dan berdaya saing.

Lebih lanjut, Christianto menyarankan pemerintahan Jokowi perlu berusaha keras untuk mengamankan sawit dari citra negatif. “Perlu prioritas untuk memobilisasi dan memberdayakan semua aset yang ada dan merintis perbaikan ke arah pembangunan berkelanjutan,”tambahnya.

Seperti diketahui upaya perbaikan penguatan keberlanjutan kelapa sawit juga terus dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya penyusunan penguatan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang saat ini sedang lakukan bahkan statusnya ditingkatkan dari mandatori Kementerian Pertanian menjadi Instruksi Presiden (Inpres) sehingga akan memperkuat posisi perkelapasawitan baik di dalam maupun di luar negeri.

Selanjutnya, di tengah gencarnya kampanye hitam komoditas unggulan (kelapa sawit) yang mampu menopang devisa negara, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengajak pelaku industri kelapa sawit agar mengedukasi masyarakat untuk melawan propaganda mengenai minyak sawit. Edukasi akan memunculkan klarifikasi atas tuduhan pihak luar terhadap minyak sawit Indonesia.

Dengan kondisi demikian, lanjut Enggar, pemerintah akan terus melawan kampanye hitam dan persaingan tidak sehat terhadap minyak sawit Indonesia. “Untuk itu, pihaknya kerap bersuara dengan pihak Eropa mengenai diskriminasi terhadap sawit,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menambahkan, “Kemanapun saya pergi, tidak pernah lupa untuk mengampanyekan sawit sebagai aset  bangsa yang perlu dijaga bersama. Seharusnya tidak perlu ada arogansi kepentingan, karena semangat yang harus dibangun adalah kesejahteraan Indonesia.”

“Kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan sawit rakyat harus menjadi prioritas,” tegas Amran.

 

(Robi Fitrianto)

sumber: sawitindonesia.com

Seleksi Bersama Masuk Politeknik LPP di Kab. Kediri 10 Maret 2018


Hai kalian siswa-siswi SMA, MA, SMK Kabupaten Kediri, Persiapkan Diri Kalian..

LPP Yogyakarta akan mengadakan Tes Seleksi Bersama Program Reguler dan Program Beasiswa di SMA N 1 Grogol Kediri. Tes akan dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2018 pukul 08.00 wib.
Sebuah kesempatan besar bagi kalian calon Generasi Planters Indonesia masa depan. So, jangan sia-siakan kesempatan ini..
SBM KEDIRI

 

LPP-BPDP Kumpulkan Stakeholder di Seminar “Sustainable Palm Oil Insight”


WhatsApp Image 2018-01-19 at 11.50.17 AM

YOGYA, KRJOGJA.com – Memperingati Dies Natalis ke-48, Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) menggelar seminar keberlanjutan industri kelapa sawit bertema “Sustainable Palm Oil Insight” bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit 17-18 Januari 2018. Mendatangkan pembicara dari Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Institute of Development of Economics and Finance (INDEF), PT Perkebunan Nusantara, Balai Besar Teknologi Bogor dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), LPP ingin menjembatani terbangunnya industri hilir kepala sawit untuk memaksimalkan pendapatan negara.

Mustangin, Ketua Panitia Seminar Sustainable Palm Oil Insight mengatakan pemilihan tema tersebut diambil lantaran saat ini industri kelapa sawit mengalami banyak tantangan baik dari dalam maupun luar negeri. Menurut dia, seminar tersebut ingin menjelaskan sekaligus mengajak seluruh instansi terkait untuk bahu-membahu mengatasi permasalahan yang dihadapi salah satu jenis komoditas perkebunan andalan Indonesia.

“Kami ingin menunjukkan pada akademisi, praktisi, pemerhati, investor dan juga pemerintah tentang kondisi saat ini dari industri kepala sawit di Indonesia dan dunia. Harapannya, kedepan muncul solusi, inovasi dari pihak-pihak terkait untuk mengurai tantangan industri kelapa sawit khususnya di Indonesia,” ungkapnya pada KRjogja.com Rabu (17/1/2018).

Danang Girindrawardana pembicara dari GAPKI dalam pemaparannya mengungkap sektor kelapa sawit saat ini menjadi salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara dari industri hulu (pertanian) dengan hasil Crude Palm Oil (CPO). Tak hanya itu, kelapa sawit Indonesia saat ini menurut dia juga mendominasi 48 persen produksi CPO dunia yang secara tak langsung menempatkan Indonesia bersaing dengan negara seperti Amerika Serikat.

“Namun karena banyaknya kampanye hitam tentang industri kepala sawit selama ini yang disorot hal buruknya saja, misalnya seperti deforestasi (penghilangan hutan untuk perubahan peruntukan lahan), penggunaan pekerja anak hingga isu HAM begitu masif diberitakan. Orang kemudian tak tahu bahwa industri sawit ini selalu menghasilkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tinggi, menghemat devisa begitu besar dan secara lokal petani kelapa sawit seluruhnya berada di atas garis kemiskinan, menurut data BPS,” ungkapnya.

Meski begitu, Danang tak memungkiri predikat lahan penghasil terbesar dengan PDRB besar tak lantas membuat Indonesia unggul dibandingkan negara lainnya khususnya dalam ranah industri hilir. “Ketika bicara industri hilir (olahan) maka kita ini minder karena tak ada apa-apanya. Kita harus kejar agar tak ketinggalan paling tidak di ASEAN dulu,” sambungnya.

Industri hilir menurut Danang juga menjadi salah satu hal penting yang harus segera dipikirkan oleh instansi terkait di Indonesia agar kedepan kelapa sawit tak berakhir seperti komoditas perkebunan lain di Indonesia. “Di Indonesia kita baru bicara food, bio diesel tapi  di luar negeri mereka sudah berpikir mengembangkan diversifikasi produk misalnya jadi untuk interior pesawat yang ketika disentuh tak meninggalkan sidik jari. Jadi sudah jangan hanya fokus pada industri huku saja seperti sekarang,” ungkapnya lagi.

Ir  R Azis Hidayat perwakilan ISPO yang juga menjadi pembicara seminar mengharapkan segera ada langkah nyata dari pemerintah agar segera mengundangkan ISPO sebagai otoritas kelapa sawit di Indonesia. Hal tersebut penting mengingat saat ini Indonesia masih harus mengikuti standarisasi negara lain sekaligus memperbaiki tata kelola kelapa sawit di dalam negeri.

“Karena kita juara dunia banyak yang tak senang seperti dari Eropa yang sampai hari ini pasti ada berita negatif tentang sawit dan dalam sehari bisa puluhan berita. Tuduhan bagi negara kita sangat banyak belum itu deforestasi, pekerja anak dan isu HAM juga. ISPO berupaya memperbaiki diri berdasar tuntutan dunia dengan memastikan sustainability palm oil dari hulu hingga hilir,” terangnya. (Fxh)

sumber: http://krjogja.com/web/news/read/55373/LPP_BPDP_Kumpulkan_Stakeholder_di_Seminar_Sustainable_Palm_Oi