Harga TBS Sawit Riau Periode 30 Okt – 05 Nov 2019 Naik Rp 31,27/Kg


InfoSAWIT, PEKANBARU – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Riau merujuk surat Penetapan  Harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau No. 42 periode  30 Okt s/d 05 Nov 2019, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 31,27/Kg menjadi Rp 1.495,33/Kg.

Berikut harga sawit Riau berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp 1.101,14/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.193,51/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.305,21/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.336,65/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.388,70/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.427,11/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.460,91/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 1.495,33/Kg, sawit umur 21 tahun Rp 1.431,35/Kg, dan sawit umur 22 tahun Rp 1.424,10/Kg, sawit umur 23 Rp 1.418,07/kg, sawit umur 24 Rp 1.357,71/Kg dan sawit umur 25 Rp 1.324,51/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 6.999,23/Kg dan harga Kernel Rp 3.592,99/Kg dengan indeks K 86,24%. (T2)

Disclaimer: Pemberitaan ini sesuai dengan harga Dinas Perkebunan setempat, bisa jadi harga di lapangan akan berbeda.

Sumber : infosawit.com

Bahan Bakar Kualitas Tinggi Berbahan Minyak Sawit Berhasil Diuji Coba


Bahan Bakar Kualitas Tinggi Berbahan Minyak Sawit Berhasil Diuji Coba

Suara.com – Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil kembangkan katalis perengkahan (cracking) minyak sawit  menjadi bensin nabati.

Ketua program studi teknik Kimia ITB, I.G.B.N Makertihartha menjelaskan, bahan bakar nabati buatannya ini merupakan bensin berkualitas tinggi.

Diketahui bahan bakar nabati bersifat drop-in artinya bisa digunakan didalam mesin secara langsung tanpa dicampur dengan bahan bakar fosil.

“Minyak kelapa sawit yang sudah dihilangkan getahnya saja langsung kita gunakan, jadi biaya produksinya jadi lebih murah yang dibayangkan,” ujar Makertihartha, Selasa (30/4/2019).

Bahan bakar bensin nabati memiliki oktan riset atau research octane number (RON) sekitar 100-120. Perolehan bensin melalui proses ini terbuat dari 50 persen massa dari kelapa sawit sebagai pancingannya.

Namun selain dijadikan bahan bakar bensin nabati juga menghasilkan LPG nabati dengan perolehan 20 persen massa. Inovasi yang dilakukan ini memberikan peluang untuk memenuhi bahan bakar bensin secara nasional.

“Yang kita kembangkan disini katalisnya hasil kerjasama penelitian kami yang dibiayai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit,” tambahnya.

Makertihartha menuturkan, telah merancang sebuah pabrik utama untuk produksi bensin nabati dengan minyak kelapa sawit dengan kapasitas 8 ton perjamnya.

Ia mengklaim biaya untuk memproduksi bahan bakar bensin nabati ini lebih murah dibandingkan harga bensin yang beredar saat ini.

“Harganya skema bisnisnya agak berbeda tidak 100 persen menjual ini tetapi harus di blending (pencampuran) dan harganya jauh lebih murah dengan bensin yang dipasarkan sekarang,” terangnya.

Sumber : Suara.com

3 Strategi Presiden Jokowi Dorong Harga Karet


Harga Getah Karet Merosot Tajam Hingga 50%

PALEMBANG – Presiden Joko Widodo menyebut pemerintah telah melakukan langkah untuk mendorong harga karet dari petani kembali naik.

Presiden saat silahturahmi dengan petani karet se-Sumatera Selatan di perkebunan rakyat Desa Lalang Sembawa, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sabtu, menyebut langkah pertama adalah koordinasi dengan negara penghasil karet mentah untuk kendalikan pasokan di pasar.

Jokowi mengakui negosiasi dengan negara lain tidak mudah, namun dalam pekan dua pekan ini harga karet mulai naik.

“Dulu karet harganya Rp5.000-Rp6.000 per kilogram, sekarang Rp8.900 sampai Rp9.000 per kilogram. Ini harus disyukuri karena ekonomi dunia masih dalam posisi belum baik. Nggak mungkin akan seperti ini terus. Kalau keadaan normal harga akan kembali baik dalam posisi belum normal,” katanya.

Presiden juga mengatakan pemerintah berupaya agar harga karet dari petani terdongkrak ke harga normal dengan menambah serapan ke pasar dalam negeri.

“Kedua saya perintahkan Menteri PUPR Pak Basuki, sekarang ngaspal jalan jangan hanya pakai aspal, campur dengan karet,” katanya.

Kepala Negara menyebut bahwa ini sudah dicoba di Sumsel, Riau, dan Jambi.

“Sudah dicoba dan hasilnya bagus,” katanya.

Presiden juga menyebut telah memerintahkan ke seluruh wilayah Indonesia.

“Saya perintahkan semua provinsi kalau aspal jalan pakai karet, sehingga kita tidak bergantung pada pasar luar negeri,” katanya.

Langkah ketiga, kata Jokowi adalah Indonesia harus punya pabrik sehingga tidak usah di jual ke luar.

“Karena pasar dunia sukanya mengatur. Kelihatan tak banyak. Tahan dulu, harga jatuh baru dibeli. Kita ingin industri yang berkaitan dengan bahan baku karet mentah seperti pabrik ban, sarung tangan dan lain-lain,” jelasnya.

Presiden juga memperintahkan BUMN seperti PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Persero untuk beli karet rakyat.

“Beli dengan harga yang baik. Simpan dulu nggak apa-apa. Suatu saat harga dunia karena barang nggak ada, baru dilepas,” katanya.

Dengan langkah yang diambil pemerintah tersebut ini harga karet kembali normal dan kesejahteraan petani bisa terwujud.

Dalam silaturahmi ini Presiden didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi dan beberapa Menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Seskab Pramono Anung dan Gubernur Sumsel Herman Deru.

(fbn)

Sumber : okezone.com

Gula Sawit Sumber Ekonomi Baru


Gula merah bisa dihasilkan dari batang kelapa sawit dan pembuatannya sangat sederhana serta hasilnya bernilai ekonomi tinggi. Bagi petani sawit yang mau menambah pendapatan, inovasi ini menjadi sumber ekonomi baru dan hasilnya sangat besar.

Hal tersebut disampaikan Kabid Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia, kepada Serambi, di ruang kerjanya, beberapa hari lalu. Menurutnya, hal tersebut bisa dilaksanakan dengan program replanting (peremajaan) sawit rakyat.

Seperti yang telah diketahui bahwa tahun ini Aceh mendapat kuota dana replanting sawit 12.258 hektare (Ha) di tujuh kabupaten, yaitu Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Singkil, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Bapak Azanuddin juga mengatakan bahwa dalam program replanting ini, selain mengganti tanaman tua dan tanaman muda yang produksi tandan buah segar (TBS)-nya di bawah 10 ton Ha/tahun dan yang berasal dari bibit ilegal, untuk Aceh kita akan arahkan pada beberapa inovasi kegiatan.

Satu buah batang sawit yang berumur di atas 15 tahun, dapat menghasilkan nira 3-15 liter per 24 jam dan mampu mengeluarkan nira antara 2-3 bulan. Hal ini tergantung pada umur tanaman, kondisi batang yang sehat, dan lokasi batang sawit tersebut ditanam. Bapak Azanuddin juga mengatakan bahwa bila rata-rata lima liter per 24 jam selama dua bulan, per batang sawit akan menghasilkan nira sebanyak 300 liter.

Dari 300 liter nira, dapat menghasilkan gula merah 60 kilogram (Kg) atau sekitar 20 persen dari nira yang ada. Harga jual gula merah di pasaran Medan Rp 15.000-20.000 per Kg. Bila dirata-ratakan Rp 10.000 per Kg, selama dua bulan (60 hari) bisa menghasilkan Rp 600.000 per batang kelapa sawit. Jika dikalikan 100 batang (100 batang rata-rata per hektare), maka dalam dua bulan petani sudah bisa mendapat uang Rp 60 juta.

Oleh karena itu, pemanfaatan batang kelapa sawit menjadi gula merah merupakan sumber ekonomi alternatif baru bagi petani sawit yang ingin menambah pemasukan dan hasilnya sangat besar.

Salah satu bagian dari tanaman kelapa sawit yang dapat menghasilkan gula merah dari batang sawit yang sudah ditebang. Inovasi itu, selanjutnya, dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama,  setelah tanaman sawit ditebang, batangnya yang sudah tumbang dimanfaatkan nira sebagai bahan baku untuk pembuatan gula merah.

Kegiatan selanjutnya setelah 2-3 bulan,  batang sawit yang sudah diambil niranya dicincang untuk pembuatan pupuk kompos. Langkah itu, bisa mengurangi biaya produksi petani untuk membeli pupuk, baik kimia maupun pupuk organik. Selain itu juga bisa dibuat untuk pelet dan lainnya dari limbah sawit.

Kegiatan keempat adalah lahan yang sudah bersih, akan dimanfaatkan untuk tumpang sari pajale (padi, jagung, dan kedelai) yang juga akan mendapat bantuan dari Ditjen Tanaman Pangan Kementan RI. Dengan demikian, lahan replanting tanaman sawit tersebut bisa menambah luas tambah tanam (LTT).

Kegiatan terakhir adalah semua petani yang mengajukan dan mendapat program replanting ini akan diikutkan dalam program ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil atau Pembangunan Sawit Berkelanjutan). Berdasarkan Permentan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Sistem Sertifikasi Kepala Sawit, ISPO diwajibkan bagi perusahaan, sedangkan bagi petani bersifat sukarela.

Adapun daerah yang telah menerapkannya adalah di Desa Alue Leuhoop, Kecamatan Cot Girek Aceh Utara. Sedangkan hasil yang di dapat sekitar 16 liter per 24 jam, dan harga jual di pasar Lhoksukon, Aceh Utara, mencapai Rp 17.000 per Kg.

Bapak Azanuddin juga berharap dengan dana otsus yang ada akan melaksanakan pelatihan cara pembuatan gula merah dari batang sawit kepada petani sawit yang mendapat program replanting.

 

Editor    : Bakri

Sumber : serambinews.com

 

Pelaku Usaha Wajib Gunakan Biodiesel Per 1 September 2018


Pemerintah telah menyelesaikan persiapan menjelang pelaksanaan program wajib memakai biodiesel 20 persen atau B20 pada 1 September 2018 mendatang.

Melalui aturan ini, para pelaku usaha wajib untuk menggunakan biodiesel. Hal itu tertuang dalam revisi Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015, belum lama ini.  Menteri Koordinator BIdang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa Perpres penggunaan biodiesel telah di tandatangani sejak 15 Agustus 2018.

Perpres Nomor 66 Tahun 2018 tentang Revisi Kedua Perpres Nomor 61 Tahun 2015 tentang Program Mandatory B20. Darmin menjelaskan, revisi yang dilakukan adalah mengenai perluasan insentif biodiesel B20, dari yang sebelumnya hanya untuk Public Service Obligation (PSO) (BBM bersubsidi) nantinya juga akan diterapkan untuk non-PSO (nonsubsidi). Adapun implementasi mandatory biodiesel B20 dilakukan untuk menghemat devisa negara. “Alat-alat transportasi angkutan maupun kapal laut, alat-alat berat di pertambangan, maupun kereta api. Bahkan alat-alat angkutan di militer masuk. TNI minta waktu dua bulan untuk mencoba alat tempur mereka, apakah akan berpengaruh secara negatif atau tidak,” tutur Darmin.

Di satu sisi, program wajib menggunakan biodiesel juga diharapkan dapat mengatasi kelebihan pasokan sawit sebagai dampak menurunnya ekspor Crude Palm Oil (CPO) karena berbagai faktor.

Berdasarkan data terakhir, produksi CPO pada Mei 2018 tercatat sebesar 4,24 juta ton atau naik 14 persen dibanding produksi April sebesar 3,72 juta ton.

Kelebihan jumlah minyak kelapa sawit digunakan sebagai bahan biodiesel B20 pengganti BBM.

“Kelebihan pasokan dimungkinkan untuk diserap melalui program biodiesel karena saat ini utilisasi produksinya baru sekitar 30 persen atau setara 3,5 juta kiloliter per tahun dari total kapasitas terpasang. Ini menunjukkan serapan produksi biodiesel domestik sangat mungkin ditingkatkan,” ujar Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Dono Boestami.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyebut ketika B20 sudah dijalankan secara penuh, pemerintah bisa menghemat devisa yang selama ini digunakan untuk impor solar.

Saat ini, Indonesia mengimpor solar hingga 5,5 miliar dollar AS per tahun di mana kebutuhan impor solar mencapai 21 juta dollar AS per hari.

Penulis  : Andri Donnal Putera

Sumber : Kompas.com

Menkeu: Indonesia Bisa menjadi Pelaku Utama di Industri Sawit Global


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai Indonesia memiliki kemampuan untuk menjadi pelaku sektor sawit terbesar di dunia. Kelebihan Indonesia dalam sektor kelapa sawit dipandang harus dimanfaatkan secara maksimal, terlebih sudah ada negara-negara lain yang melihat peluang dari bisnis kelapa sawit.

Ibu Sri Mulyani menyampaikan bahwa ini hal tersebut bukan tanpa alasan. Saat bekerja di Bank Dunia, beliau pergi ke beberapa negara mulai dari negara Afrika sampai Amerika Latin. Mereka sudah memikirkan memiliki insiatif membangun kelapa sawit di berbagai daerah tersebut. Kebanyakan perusahaan itu dari Asia, yaitu Malaysia.

Indonesia bisa menjadi  setting regulation, formulate dan influence policy bagi masyarakat dunia dalam perkebunan kelapa sawit

Sri Mulyani menjelaskan, potensi ekspor Indonesia untuk kelapa sawit terhitung cukup besar. Dari data Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), produksi kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) hingga Mei 2018 mencapai 4,24 juta ton atau naik 14 persen dibandingkan posisi April yang sebesar 3,72 juta ton. Namun, saat ini ekspor kelapa sawit Indonesia terkendala sejumlah hal. Di antaranya adalah karena tensi pasar global yang tinggi serta ada kampanye negatif terhadap produk sawit asal Indonesia yang dilakukan oleh berbagai negara. Sri Mulyani mengatakan bahwa Indonesia masih menjadi pemain internal dan selalu defensif. jika Indonesia bisa jadi pelaku dunia, maka dapat melakukan setting regulation. Bahkan, bisa melakukan formulate dan influence policy.

Dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor sawit, Sri Mulyani juga berpesan agar BPDPKS bekerja sama dengan pelaku industri kelapa sawit. Mereka didorong untuk menyusun strategi dalam rangka mendorong sektor sawit agar bisa lebih luas lagi, salah satunya dengan merambah ke negara-negara tujuan ekspor baru.

Penulis : Andri Donnal Putera

Sumber : Kompas.com

Pertamina Kekurangan Bahan Campuran B20


PT Pertamina (Persero) mengalami kekurangan pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) atau bahan campuran biodiesel B20 dari badan usaha yang memproduksi bahan bakar nabati (BBN).
“Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20. Namun penyaluran B20 tergantung pada suplai FAME, di mana hingga saat ini suplai belum maksimal didapatkan,” kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati
Dari 112 terminal BBM, baru 69 terminal BBM yang sudah menerima penyaluran FAME. Sebagian besar daerah yang belum tersalurkan FAME berada di kawasan timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi.
Sementara itu, Direktur Pemasaran Retail Pertamina, Mas’ud Khamid mengatakan, keberhasilan Pertamina untuk mendukung program pemerintah tersebut memang sangat bergantung keberlanjutan suplai FAME dari para produsen.

Dia mencontohkan, terminal BBM Plumpang di Jakarta sepanjang 15-20 September 2018 tidak bisa optimal memproduksi B20 karena kekurangan pasokan dari produsen FAME. Sementara di sisi lain, Pertamina tetap harus memproduksi BBM demi memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Pertamina punya 112 terminal BBM, kami siap semua untuk mengolahnya sepanjang suplai ada dari mitra yang produksi FAME. Begitu FAME datang bisa langsung kami di-blending dan jual,” ucapnya.
Mas’ud menyebutkan, total kebutuhan FAME Pertamina untuk dicampurkan ke solar subsidi dan non subsidi yaitu sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun.
“Total konsumsi solar subsidi dan non subsidi 29 juta kiloliter per tahun, ” ujarny
Mengenai sanksi denda sebesar Rp 6.000 per liter bagi badan usaha BBM yang tidak melakukan pencampuran FAME, Mas’ud menyatakan pihaknya akan berdiskusi dengan pemerintah terkait hal ini.
“Denda ini kami dukung supaya disiplin. Tapi kalau kondisi di lapangan suplai FAME-nya tidak ada, kami juga tidak bisa mengolah dan menyalurkan B20. Jadi ini harus didiskusikan lagi dengan pemerintah,” ujar dia.
Mas’ud menegaskan perseroan berkomitmen terus mendukung seluruh kebijakan pemerintah. Pertamina berharap perluasan penggunaan B20 pada produk BBM Diesel ini dapat mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan bagi kendaraan pribadi, sekaligus dapat mengurangi impor BBM sehingga akan berdampak pada perbaikan neraca perdagangan dan penggunaan devisa negara.

Pada dasarnya, menurutnya, PT Pertamina (Persero) mendukung kebijakan mandatory Biodisel 20 persen (B20) yang dicanangkan pemerintah mulai 1 September 2018.
Saat ini 112 terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina telah siap mengolah minyak sawit (Fatty Acid Methyl Esters/FAME) untuk dicampur ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar guna penerapan B20 dan menyalurkannya kepada masyarakat.

Penulis : Erlangga Djumena

Sumber: Kompas.com

Lemak Jenuh dalam Minyak Kelapa Sawit Tak Mutlak Bahayakan Jantung


Anggapan bahwa asam lemak jenuh yang terkandung dalam minyak kelapa sawit menjadi penyebab penyakit jantung dengan meningkatkan kolesterol, rupanya tak sepenuhnya benar.

Hal ini disampaikan oleh Prof Dr Ir Sri Raharjo MSc dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki) di Melia Purosani Yogyakarta kemarin, Minggu (23/9/2018).

Dalam pertemuan yang mengusung tema ‘The Role of Occupational Medicine in Keeping The Workers in Their Job’ tersebut, Sri menjelaskan bahwa kaitan antara keduanya tidak sepenuhnya benar.

Bahkan pihaknya mengklaim minyak kelapa sawit lebih baik ketimbang minyak nabati dari sumber lain.

“Masyarakat sering kali mengasumsikan lemak jenuh menyebabkan penyakit jantung dengan meningkatkan kolesterol dalam darah, informasi ini yang sudah kadung menjalar dan diadvokasikan kepada masyarakat selama lebih dari 30 tahun ini sehingga banyak yang mengira harus menghindari minyak kelapa sawit untuk mengurangi lemak jenuh agar tak terkena penyakit jantung, padahal faktanya akhir-akhir ini tidak demikian,” katanya saat ditemui Tribunjogja.com.

Bahkan pihaknya menjelaskan, penelitian akhir-akhir ini tidak menunjukkan secara signifikan antara pengurangan penggunaan minyak kelapa sawit terhadap berkurangnya angka penyakit jantung yang disebabkan oleh kolesterol.

“Studi terbaru, menunjukkan bahwa gambaran yang sebenarnya lebih rumit dari itu. The Europian Prospective Investigation into Cancer and Nutrition-Netherlands Cohort menyatakan hubungan antara asam lemak jenuh diet dan penyakit jantung iskemik bergantung pada jenis dan sumber asam lemak, bahkan beberapa penelitian terbaru menemukan bahwa tidak ada kaitan antara lemak jenuh dan penyakit jantung,” lanjutnya.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini menilai minyak kelapa sawit justru tidak mengandung asam lemak trans (trans fat free) namun mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh dengan proporsi yang seimbang.

Informasi maupun advokasi yang dilakukan pun nampaknya masih perlu dikaji ulang untuk benar-benar memberikan rekomendasi yang tepat kepada masyarakat agar tak banyak yang dirugikan. Di Amerika sendiri rekomendasi penghindaran penggunaan asam lemak jenuh dalam minyak kelapa sawit sudah diadvokasi maupun direkomendasikan oleh pemerintah sejak lebih dari 30 tahun lalu dan faktanya justru penyakit jantungdisana tetap meningkat.

“Advokasi maupun rekomendasi pemerintah di amerika serikat untuk menghindari lemak jenuh sudah ada daridulu. Masyarakat mereka patuh bahkan produsen pun patuh tapi faktanya insiden penyakit jantung disana bukannya menurun malah tetap meningkat. Hal ini yang perlu ditinjau kembali untuk mengeluarkan rekomendasi dan advokasi kepada masyarakat tersebut,” bebernya.

“Minyak kelapa sawit justru mengandung pitosterol, senyawa yang secara ilmiah terbukti membantu menurunkan kolesterol”

Kendati demikian, pemberi informasi advokasi dan rekomendasi yang berada di Amerika serikat tersebut justru mengkaitkan fenomena peningkatan penyakit jantung di sana dengan konsumsi gula.

“Dan justru untuk menekan penyakit itu mereka mengkambinghitamkan Gula. Bahkan beberapa aktivis sampai menganggap gula adalah toxic. Tentu ini yang perlu diluruskan,” katanya.

Sementara itu, Dr Harianto MS SpOK sekaligus perwakilan Perdoki menuturkan bahwa minyak kelapa sawit memiliki kandungan yang kaya akan vitamin E khususnya tokoferol dan tokotrienol. Yang mana zat ini bertindak sebagai antioksidan dalam tubuh. Selain itu, kandungan zat ini pun juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

“Minyak kelapa sawit justru mengandung pitosterol, senyawa yang secara ilmiah terbukti membantu menurunkan kolesterol,” sambung Harianto.

Ia pun menilai senyawa yang terkandung dalam minyak kelapa sawit banyak memberikan manfaat bagi tubuh seperti memperbaiki fungsi otak, mengurangi resiko penggumpalan darah arteri (efek antitrombotik) dan menurunkan tekanan darah.

“Sebagai minyak yang berasal dari tumbuhan, minyak kelapa sawit justru banyak memberikan manfaat bagi tubuh manusia. Minyak nabati pohon jenis serabut ini sejatinya banyak mengandung unsur vitamin dan protein yang sangat berguna untuk kesehatan tubuh manusia. Pada intinya mengkonsumsi minyak kelapa sawit tidak berbahaya,” pungkasnya.

Penulis : Wahyu Setiawan Nugroho

Sumber: Tribunjogja.com

 

Investor Maroko Tanamkan US$800 Juta untuk Pabrik Gula Terintegrasi


Konglomerasi dari Maroko Grup GDTC menanamkan modal sebesar US$800 juta di Indonesia untuk membangun perkebunan tebu dan 2 pabrik gula yang terintegrasi dengan peternakan sapi potong seluas 20.000 ha di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Perusahaan baru di bawah naungan GDTC Grup itu bernama PT GDTC Majestic Agro Industri. Perkebunan tebu itu diproyeksikan akan panen pertama pada dua tahun dari sekarang. Oleh karena saat ini masih dalam tahap perbibitan tebu.

Chairman of the Board of the Directors GDTC Investments Ahmad Bin Zuhir Bin Mohammad Bin Jaber Al Natour mengatakan dia tertarik untuk berinvestasi karena ada peluang dalam industri gula Indonesia.

“Tahun lalu total konsumsi gula Indonesia itu sekitar 5,7 juta kg sedangkan pasokan dalam negeri hanya ada sekitar 3,5 juta ton. Alhasil harus mengimpor gula sebesar 2,2 juta ton,” katanya kepada Bisnis Selasa (3/4).

GDTC memperkirakan untuk tahun ini kebutuhan gula Indonesia akan meningkat 25% atau sekitar 7,1 juta ton. Jumlah tersebut dibagi menjadi dua sektor, gula untuk konsumsi langsung sebesar 3,5 juta ton sedangkan gula untuk industri sebesar 3,6 juta ton.

Dengan mempertimbangkan kesenjangan tersebut dan stimulasi dari pemerintah yang terbuka untuk PMA bagi Industri gula, Ahmad mau menanamkan investasi di dalam negeri untuk pengembangan perkebunan tebu sekaligus pabrik gula.

PT. GDTC Majestic Agro Industri akan memiliki 2 unit pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 99 ha. Pabrik tersebut akan beroperasi selama 200 hari dengan kapasitas 6.000 TCD. Sementara perkebunan tebu seluas 20.000 ha diperkirakan akan menghasilkan gula 600 ton per hari atau sekitar 110.000 per tahun.

sumber: bisnis.com

Bertemu Dubes Uni Eropa, Jokowi Kembali Singgung Isu Kelapa Sawit


Gambar : Presiden Jokowi menerima surat kepercayaan salah seorang dari 11 duta besar negara sahabat, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/4) siang. (Foto: setkab)

 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima Surat Kepercayaan dari 11 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Designate Resident dan Designate Non Resident untuk RI di Istana Merdeka, Jakarta.

Ke-11 Dubes tersebut berasal dari negara Teluk (Bahrain), Uni Eropa (Rusia, Georgia, Latvia dan Polandia), Asia (Korea Selatan, Australia dan Fiji) dan Benua Afrika (Uganda, Gambia, dan Ivory Coast).

Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan, usai penyerahan surat kepercayaan, Jokowi dan para dubes membahas kerja sama ekonomi.

“Dalam pembicaraan satu per satu para dubes dengan presiden secara umum disampaikan bahwa kerja sama ekonomi dengan semua negara menjadi prioritas bagi Indonesia,” ujar Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Khusus dengan para dubes dari Uni Eropa, kata Retno, Jokowi menekankan pentingnya kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan kedua negara. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga meminta agar Uni Eropa memperhatikan kembali resolusi sawit.

“Indonesia meminta kembali perhatian mengenai masalah kelapa sawit,” ucapnya.

Terhadap Dubes Rusia, Kepala Negara berharap kerja sama di sektor perdagangan kedua negara terus ditingkatkan. Saat ini angka perdagangan Indonesia ke Rusia hanya sekitar dua sampai tiga miliar, ke depan ditargetkan menyentuh lima miliar.

“Dalam pertemuan kita sampaikan proposal untuk negoisasi eurasian di mana Rusia menjadi negara anggota. Dan kami sampaikan agar Rusia terus dukung Indonesia dalam rangka pengembangan ekonomi dengan Eurasian Economic Union (EAEU),” jelas Retno.

Sementara dengan Korea Selatan, Jokowi menekankan pada ekselerasi industri. “Presiden minta fokus akselerasi ini dilanjutkan jadi fokus kerja sama,” pungkas Retno.

Sebelumnya, negara penghasil kelapa sawit masing-masing Malaysia, Indonesia dan Thailand mengancam akan membalas Uni Eropa (UE) jika terus mendiskriminasi dan menyerang industri minyak sawit dengan mengeluarkan komoditi tersebut dari program biodieselnya.

sumber: liputan6.com