Ekspor Teh RI ke Mesir Terus Meningkat


Kebun Teh Wonosari (sumber: iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta – Teh merupakan minuman paling populer di Mesir yang dikonsumsi oleh semua segmen pendapatan, dan tersedia di seluruh negeri. Pasar mesir 2 tahun terakhir diwarnai dengan program reformasi ekonomi negara Mesir terkait pencabutan secara bertahap sampai tahun 2021 dari subsidi bahan bakar dan listrik yang berdampak terhadap laju inflasi yang tinggi.

Meskipun demikian, teh masih mencatat pertumbuhan positif, meskipun pada tingkat yang lebih lambat. Hal ini terjadi karena teh dianggap sebagai produk penting dalam rumah tangga Mesir, sehingga permintaan tetap dipertahankan meskipun harganya naik, sebagian karena peningkatan populasi.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertania (Kementan) Kasdi Subagyono mengatakan, pemerintah mendorong industri untuk pengembangan produk-produk baru teh yang menjadi peluang untuk dikembangkan karena menawarkan alternative cita rasa dan kandungan zat antioksidan yang lebih kaya untuk konsumen.

“Pemerintah dengan program BUN-500 juga turut berkontribusi untuk membantu petani teh dalam penyediaan benih unggul dan bermutu sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas teh nasional, juga tidak kalah penting dari sisi kualitas dengan memperhatikan standar kualitas dari benih, panen, pascapanen sampai pengolahan yang dibutuhkan negara pengimpor, ” kata dia di Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Kasdi menambahkan, di satu sisi yang lain, emerintah juga mendorong pelaku usaha membuka peluang akses pasar di negara lain tentunya pasar di negara yang beriklim subtropics-sedang-dingin.

Sebagaimana data BPS diolah Ditjen Perkebunan Kementan, pada 2018, ekspor komoditas perkebunan ke Mesir sebesar 990,4 ribu ton dengan nilai ekspor mencapai USD 673,7 juta. 

Dari data volume ekspor tersebut 94 persen ekspor Indonesia ke Mesir berupa kelapa Sawit. Sedangkan untuk komoditas teh diekspor sebesar 199,6 ton berupa teh hitam dan teh hijau dengan nilai mencapai USD 415,2 ribu dan sampai dengan semester 1 tahun 2019 ekspor teh Indonesia sebesar 20 ton.

Saat ini, Badawy & Sons Co terus memimpin kategori teh secara keseluruhan di pasar Mesir, melalui merek El Arosa, dengan produk utama teh hitam. El Arosa diuntungkan dari keterjangkauan dan jaringan distribusi yang luas, yang menjangkau daerah pedesaan Mesir. 

Tetapi dengan semakin meningkatnya konsumsi teh dimesir dengan rata-rata peningkatan 5% per tahun utamanya dalam mengisi pasar cafe-cafe dan supermarket maka akan menjadi peluang untuk teh Indonesia untuk diekspor ke Mesir, utamanya aromatic tea, white tea dan black tea

Dengan Sensor Khusus, Kelapa Sawit Dapat Diketahui Matang Atau Belum


Alat panen kelapa sawit ini dilengkapi dengan sensor warna.

Kelapa sawit adalah tanaman industri penting dalam menghasilkan minyak. Untuk memanen kelapa sawit, petani menggunakan alat berupa egrek.

Egrek yang digunakan masih menggunakan cara yang sangat manual, sehingga petani yang bekerja sering sekali merasa sakit atau kelelahan pada saat memanen. Petani juga sering merasa kesusahan saat memanen, sebab petani harus selalu melihat ke atas untuk memastikan buah dalam keadaan matang.

Setelah memastikan buah dalam keadaan matang, petani juga harus menggerakkan egrek untuk memotong pelepah yang menghalangi buah kelapa sawit dan mengambil buahnya dengan cara manual. Selain itu, petani juga membutuhkan waktu yang lama saat melakukan panen.

Jika menggunakan egrek manual, sering sekali buah yang sudah matang tidak diambil karena ragu akan tingkat kematangannya.

Di era globalisasi, manusia harus mempunyai wawasan yang luas tentang perkembangan teknologi. Salah satunya pengembangan teknologi pada alat-alat pertanian.

Di era ini, alat panen kelapa sawit yang biasanya masih menggunakan egrek secara manual, saat ini dapat menggunakan mesin panen kelapa sawit yang dilengkapi dengan sensor warna.

Dengan mesin ini, petani hanya mengendalikan mesin kearah pelepah yang ingin dipotong dan buah yang akan diambil. Sensor warna pada mesin ini berfungsi untuk mendeteksi kematangan buah berdasarkan warna yang ditentukan.

Warna buah kelapa sawit yang matang akan berwarna orange atau merah gelap. Jika buah dalam keadaan kedua warna tersebut, maka buzzer akan mengeluarkan bunyi.

Jika buzzer tidak bunyi saat diarahkan ke salah satu buah, maka buah tersebut belum matang. Alat ini dapat membantu petani dalam mendeteksi buah yang matang, tanpa harus melihat secara detail warna buah.

Petani tinggal mengarahkan saja alat ke buah yang akan dipanen dan sensor yang akan bekerja. Alat ini sangat memudahkan sekali bagi para petani saat panen dan waktu yang digunakan sangat efisien.

Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Melonjak 51 Persen


Ekspor minyak sawit Indonesia ke India meningkat 51% menjadi 481.000 ton pada September 2019 dibandingkan volume pada Agustus 2019. 

Bisnis.com, JAKARTA — Ekspor minyak sawit Indonesia ke India meningkat 51% menjadi 481.000 ton pada September 2019 dibandingkan volume pada Agustus 2019.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebutkan kenaikan ini didongkrak oleh kebijakan India mengubah tarif bea masuk produk sawit dari Indonesia sehingga menjadi sama dengan tarif untuk produk minyak sawit (CPO) dari Malaysia.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono dalam keterangan resmi mengemukakan dari total produksi selama Januari-September 2019 yang mencapai 36 juta ton, sekitar 26 juta ton diserap oleh pasar ekspor. Adapun selama September, total ekspor CPO beserta produk turunannya mencapai 3,26 juta ton, naik 4% dibandingkan ekspor selama Agustus yang berada di angka 2,89 juta ton.

“Kenaikan ekspor terjadi pada semua produk kecuali biodiesel dan minyak laurat. Penurunan ekspor biodiesel yang besar terjadi pada pasar tujuan China, negara Asia Tenggara, dan Asia Timur lainnya,” kata Mukti, Rabu (20/11/2019).

Kendati ekspor ke China terkoreksi selama September, Mukti menyatakan secara akumulatif negara tersebut masih menjadi pasar terbesar Indonesia dengan volume 4,8 juta ton pada periode Januari-September 2019.

Posisi China lantas diikuti oleh Uni Eropa dengan volume 4 juta ton, negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur selain Tiongkok sebanyak 3,8 juta ton, Afrika 3,7 juta ton, dan India 3,3 juta ton.

Untuk volume ekspor September 2019, negara-negara Afrika menjadi pasar utama dengan volume 687.000 ton atau senilai US$402 juta, disusul oleh China sebanyak 560.000 ton, India 481.000 ton, dan Uni Eropa 315.000 ton.

Di sisi lain, produksi minyak sawit Indonesia sampai September 2019 tercatat telah mencapai 36 juta ton. Angka ini 13% lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi pada periode yang sama tahun lalu.

Pada aspek produksi, produksi September 2019 turun sekitar 2% dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun penurunan produksi terjadi di sejumlah provinsi yakni Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Jambi.

Harga TBS Sawit Riau Periode 30 Okt – 05 Nov 2019 Naik Rp 31,27/Kg


InfoSAWIT, PEKANBARU – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Riau merujuk surat Penetapan  Harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau No. 42 periode  30 Okt s/d 05 Nov 2019, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 31,27/Kg menjadi Rp 1.495,33/Kg.

Berikut harga sawit Riau berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp 1.101,14/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.193,51/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.305,21/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.336,65/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.388,70/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.427,11/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.460,91/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 1.495,33/Kg, sawit umur 21 tahun Rp 1.431,35/Kg, dan sawit umur 22 tahun Rp 1.424,10/Kg, sawit umur 23 Rp 1.418,07/kg, sawit umur 24 Rp 1.357,71/Kg dan sawit umur 25 Rp 1.324,51/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 6.999,23/Kg dan harga Kernel Rp 3.592,99/Kg dengan indeks K 86,24%. (T2)

Disclaimer: Pemberitaan ini sesuai dengan harga Dinas Perkebunan setempat, bisa jadi harga di lapangan akan berbeda.

Sumber : infosawit.com

Bahan Bakar Kualitas Tinggi Berbahan Minyak Sawit Berhasil Diuji Coba


Bahan Bakar Kualitas Tinggi Berbahan Minyak Sawit Berhasil Diuji Coba

Suara.com – Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil kembangkan katalis perengkahan (cracking) minyak sawit  menjadi bensin nabati.

Ketua program studi teknik Kimia ITB, I.G.B.N Makertihartha menjelaskan, bahan bakar nabati buatannya ini merupakan bensin berkualitas tinggi.

Diketahui bahan bakar nabati bersifat drop-in artinya bisa digunakan didalam mesin secara langsung tanpa dicampur dengan bahan bakar fosil.

“Minyak kelapa sawit yang sudah dihilangkan getahnya saja langsung kita gunakan, jadi biaya produksinya jadi lebih murah yang dibayangkan,” ujar Makertihartha, Selasa (30/4/2019).

Bahan bakar bensin nabati memiliki oktan riset atau research octane number (RON) sekitar 100-120. Perolehan bensin melalui proses ini terbuat dari 50 persen massa dari kelapa sawit sebagai pancingannya.

Namun selain dijadikan bahan bakar bensin nabati juga menghasilkan LPG nabati dengan perolehan 20 persen massa. Inovasi yang dilakukan ini memberikan peluang untuk memenuhi bahan bakar bensin secara nasional.

“Yang kita kembangkan disini katalisnya hasil kerjasama penelitian kami yang dibiayai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit,” tambahnya.

Makertihartha menuturkan, telah merancang sebuah pabrik utama untuk produksi bensin nabati dengan minyak kelapa sawit dengan kapasitas 8 ton perjamnya.

Ia mengklaim biaya untuk memproduksi bahan bakar bensin nabati ini lebih murah dibandingkan harga bensin yang beredar saat ini.

“Harganya skema bisnisnya agak berbeda tidak 100 persen menjual ini tetapi harus di blending (pencampuran) dan harganya jauh lebih murah dengan bensin yang dipasarkan sekarang,” terangnya.

Sumber : Suara.com

3 Strategi Presiden Jokowi Dorong Harga Karet


Harga Getah Karet Merosot Tajam Hingga 50%

PALEMBANG – Presiden Joko Widodo menyebut pemerintah telah melakukan langkah untuk mendorong harga karet dari petani kembali naik.

Presiden saat silahturahmi dengan petani karet se-Sumatera Selatan di perkebunan rakyat Desa Lalang Sembawa, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sabtu, menyebut langkah pertama adalah koordinasi dengan negara penghasil karet mentah untuk kendalikan pasokan di pasar.

Jokowi mengakui negosiasi dengan negara lain tidak mudah, namun dalam pekan dua pekan ini harga karet mulai naik.

“Dulu karet harganya Rp5.000-Rp6.000 per kilogram, sekarang Rp8.900 sampai Rp9.000 per kilogram. Ini harus disyukuri karena ekonomi dunia masih dalam posisi belum baik. Nggak mungkin akan seperti ini terus. Kalau keadaan normal harga akan kembali baik dalam posisi belum normal,” katanya.

Presiden juga mengatakan pemerintah berupaya agar harga karet dari petani terdongkrak ke harga normal dengan menambah serapan ke pasar dalam negeri.

“Kedua saya perintahkan Menteri PUPR Pak Basuki, sekarang ngaspal jalan jangan hanya pakai aspal, campur dengan karet,” katanya.

Kepala Negara menyebut bahwa ini sudah dicoba di Sumsel, Riau, dan Jambi.

“Sudah dicoba dan hasilnya bagus,” katanya.

Presiden juga menyebut telah memerintahkan ke seluruh wilayah Indonesia.

“Saya perintahkan semua provinsi kalau aspal jalan pakai karet, sehingga kita tidak bergantung pada pasar luar negeri,” katanya.

Langkah ketiga, kata Jokowi adalah Indonesia harus punya pabrik sehingga tidak usah di jual ke luar.

“Karena pasar dunia sukanya mengatur. Kelihatan tak banyak. Tahan dulu, harga jatuh baru dibeli. Kita ingin industri yang berkaitan dengan bahan baku karet mentah seperti pabrik ban, sarung tangan dan lain-lain,” jelasnya.

Presiden juga memperintahkan BUMN seperti PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Persero untuk beli karet rakyat.

“Beli dengan harga yang baik. Simpan dulu nggak apa-apa. Suatu saat harga dunia karena barang nggak ada, baru dilepas,” katanya.

Dengan langkah yang diambil pemerintah tersebut ini harga karet kembali normal dan kesejahteraan petani bisa terwujud.

Dalam silaturahmi ini Presiden didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi dan beberapa Menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Seskab Pramono Anung dan Gubernur Sumsel Herman Deru.

(fbn)

Sumber : okezone.com

Gula Sawit Sumber Ekonomi Baru


Gula merah bisa dihasilkan dari batang kelapa sawit dan pembuatannya sangat sederhana serta hasilnya bernilai ekonomi tinggi. Bagi petani sawit yang mau menambah pendapatan, inovasi ini menjadi sumber ekonomi baru dan hasilnya sangat besar.

Hal tersebut disampaikan Kabid Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia, kepada Serambi, di ruang kerjanya, beberapa hari lalu. Menurutnya, hal tersebut bisa dilaksanakan dengan program replanting (peremajaan) sawit rakyat.

Seperti yang telah diketahui bahwa tahun ini Aceh mendapat kuota dana replanting sawit 12.258 hektare (Ha) di tujuh kabupaten, yaitu Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Singkil, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Bapak Azanuddin juga mengatakan bahwa dalam program replanting ini, selain mengganti tanaman tua dan tanaman muda yang produksi tandan buah segar (TBS)-nya di bawah 10 ton Ha/tahun dan yang berasal dari bibit ilegal, untuk Aceh kita akan arahkan pada beberapa inovasi kegiatan.

Satu buah batang sawit yang berumur di atas 15 tahun, dapat menghasilkan nira 3-15 liter per 24 jam dan mampu mengeluarkan nira antara 2-3 bulan. Hal ini tergantung pada umur tanaman, kondisi batang yang sehat, dan lokasi batang sawit tersebut ditanam. Bapak Azanuddin juga mengatakan bahwa bila rata-rata lima liter per 24 jam selama dua bulan, per batang sawit akan menghasilkan nira sebanyak 300 liter.

Dari 300 liter nira, dapat menghasilkan gula merah 60 kilogram (Kg) atau sekitar 20 persen dari nira yang ada. Harga jual gula merah di pasaran Medan Rp 15.000-20.000 per Kg. Bila dirata-ratakan Rp 10.000 per Kg, selama dua bulan (60 hari) bisa menghasilkan Rp 600.000 per batang kelapa sawit. Jika dikalikan 100 batang (100 batang rata-rata per hektare), maka dalam dua bulan petani sudah bisa mendapat uang Rp 60 juta.

Oleh karena itu, pemanfaatan batang kelapa sawit menjadi gula merah merupakan sumber ekonomi alternatif baru bagi petani sawit yang ingin menambah pemasukan dan hasilnya sangat besar.

Salah satu bagian dari tanaman kelapa sawit yang dapat menghasilkan gula merah dari batang sawit yang sudah ditebang. Inovasi itu, selanjutnya, dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama,  setelah tanaman sawit ditebang, batangnya yang sudah tumbang dimanfaatkan nira sebagai bahan baku untuk pembuatan gula merah.

Kegiatan selanjutnya setelah 2-3 bulan,  batang sawit yang sudah diambil niranya dicincang untuk pembuatan pupuk kompos. Langkah itu, bisa mengurangi biaya produksi petani untuk membeli pupuk, baik kimia maupun pupuk organik. Selain itu juga bisa dibuat untuk pelet dan lainnya dari limbah sawit.

Kegiatan keempat adalah lahan yang sudah bersih, akan dimanfaatkan untuk tumpang sari pajale (padi, jagung, dan kedelai) yang juga akan mendapat bantuan dari Ditjen Tanaman Pangan Kementan RI. Dengan demikian, lahan replanting tanaman sawit tersebut bisa menambah luas tambah tanam (LTT).

Kegiatan terakhir adalah semua petani yang mengajukan dan mendapat program replanting ini akan diikutkan dalam program ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil atau Pembangunan Sawit Berkelanjutan). Berdasarkan Permentan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Sistem Sertifikasi Kepala Sawit, ISPO diwajibkan bagi perusahaan, sedangkan bagi petani bersifat sukarela.

Adapun daerah yang telah menerapkannya adalah di Desa Alue Leuhoop, Kecamatan Cot Girek Aceh Utara. Sedangkan hasil yang di dapat sekitar 16 liter per 24 jam, dan harga jual di pasar Lhoksukon, Aceh Utara, mencapai Rp 17.000 per Kg.

Bapak Azanuddin juga berharap dengan dana otsus yang ada akan melaksanakan pelatihan cara pembuatan gula merah dari batang sawit kepada petani sawit yang mendapat program replanting.

 

Editor    : Bakri

Sumber : serambinews.com

 

Pelaku Usaha Wajib Gunakan Biodiesel Per 1 September 2018


Pemerintah telah menyelesaikan persiapan menjelang pelaksanaan program wajib memakai biodiesel 20 persen atau B20 pada 1 September 2018 mendatang.

Melalui aturan ini, para pelaku usaha wajib untuk menggunakan biodiesel. Hal itu tertuang dalam revisi Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015, belum lama ini.  Menteri Koordinator BIdang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa Perpres penggunaan biodiesel telah di tandatangani sejak 15 Agustus 2018.

Perpres Nomor 66 Tahun 2018 tentang Revisi Kedua Perpres Nomor 61 Tahun 2015 tentang Program Mandatory B20. Darmin menjelaskan, revisi yang dilakukan adalah mengenai perluasan insentif biodiesel B20, dari yang sebelumnya hanya untuk Public Service Obligation (PSO) (BBM bersubsidi) nantinya juga akan diterapkan untuk non-PSO (nonsubsidi). Adapun implementasi mandatory biodiesel B20 dilakukan untuk menghemat devisa negara. “Alat-alat transportasi angkutan maupun kapal laut, alat-alat berat di pertambangan, maupun kereta api. Bahkan alat-alat angkutan di militer masuk. TNI minta waktu dua bulan untuk mencoba alat tempur mereka, apakah akan berpengaruh secara negatif atau tidak,” tutur Darmin.

Di satu sisi, program wajib menggunakan biodiesel juga diharapkan dapat mengatasi kelebihan pasokan sawit sebagai dampak menurunnya ekspor Crude Palm Oil (CPO) karena berbagai faktor.

Berdasarkan data terakhir, produksi CPO pada Mei 2018 tercatat sebesar 4,24 juta ton atau naik 14 persen dibanding produksi April sebesar 3,72 juta ton.

Kelebihan jumlah minyak kelapa sawit digunakan sebagai bahan biodiesel B20 pengganti BBM.

“Kelebihan pasokan dimungkinkan untuk diserap melalui program biodiesel karena saat ini utilisasi produksinya baru sekitar 30 persen atau setara 3,5 juta kiloliter per tahun dari total kapasitas terpasang. Ini menunjukkan serapan produksi biodiesel domestik sangat mungkin ditingkatkan,” ujar Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Dono Boestami.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyebut ketika B20 sudah dijalankan secara penuh, pemerintah bisa menghemat devisa yang selama ini digunakan untuk impor solar.

Saat ini, Indonesia mengimpor solar hingga 5,5 miliar dollar AS per tahun di mana kebutuhan impor solar mencapai 21 juta dollar AS per hari.

Penulis  : Andri Donnal Putera

Sumber : Kompas.com

Menkeu: Indonesia Bisa menjadi Pelaku Utama di Industri Sawit Global


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai Indonesia memiliki kemampuan untuk menjadi pelaku sektor sawit terbesar di dunia. Kelebihan Indonesia dalam sektor kelapa sawit dipandang harus dimanfaatkan secara maksimal, terlebih sudah ada negara-negara lain yang melihat peluang dari bisnis kelapa sawit.

Ibu Sri Mulyani menyampaikan bahwa ini hal tersebut bukan tanpa alasan. Saat bekerja di Bank Dunia, beliau pergi ke beberapa negara mulai dari negara Afrika sampai Amerika Latin. Mereka sudah memikirkan memiliki insiatif membangun kelapa sawit di berbagai daerah tersebut. Kebanyakan perusahaan itu dari Asia, yaitu Malaysia.

Indonesia bisa menjadi  setting regulation, formulate dan influence policy bagi masyarakat dunia dalam perkebunan kelapa sawit

Sri Mulyani menjelaskan, potensi ekspor Indonesia untuk kelapa sawit terhitung cukup besar. Dari data Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), produksi kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) hingga Mei 2018 mencapai 4,24 juta ton atau naik 14 persen dibandingkan posisi April yang sebesar 3,72 juta ton. Namun, saat ini ekspor kelapa sawit Indonesia terkendala sejumlah hal. Di antaranya adalah karena tensi pasar global yang tinggi serta ada kampanye negatif terhadap produk sawit asal Indonesia yang dilakukan oleh berbagai negara. Sri Mulyani mengatakan bahwa Indonesia masih menjadi pemain internal dan selalu defensif. jika Indonesia bisa jadi pelaku dunia, maka dapat melakukan setting regulation. Bahkan, bisa melakukan formulate dan influence policy.

Dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor sawit, Sri Mulyani juga berpesan agar BPDPKS bekerja sama dengan pelaku industri kelapa sawit. Mereka didorong untuk menyusun strategi dalam rangka mendorong sektor sawit agar bisa lebih luas lagi, salah satunya dengan merambah ke negara-negara tujuan ekspor baru.

Penulis : Andri Donnal Putera

Sumber : Kompas.com

Pertamina Kekurangan Bahan Campuran B20


PT Pertamina (Persero) mengalami kekurangan pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) atau bahan campuran biodiesel B20 dari badan usaha yang memproduksi bahan bakar nabati (BBN).
“Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20. Namun penyaluran B20 tergantung pada suplai FAME, di mana hingga saat ini suplai belum maksimal didapatkan,” kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati
Dari 112 terminal BBM, baru 69 terminal BBM yang sudah menerima penyaluran FAME. Sebagian besar daerah yang belum tersalurkan FAME berada di kawasan timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi.
Sementara itu, Direktur Pemasaran Retail Pertamina, Mas’ud Khamid mengatakan, keberhasilan Pertamina untuk mendukung program pemerintah tersebut memang sangat bergantung keberlanjutan suplai FAME dari para produsen.

Dia mencontohkan, terminal BBM Plumpang di Jakarta sepanjang 15-20 September 2018 tidak bisa optimal memproduksi B20 karena kekurangan pasokan dari produsen FAME. Sementara di sisi lain, Pertamina tetap harus memproduksi BBM demi memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Pertamina punya 112 terminal BBM, kami siap semua untuk mengolahnya sepanjang suplai ada dari mitra yang produksi FAME. Begitu FAME datang bisa langsung kami di-blending dan jual,” ucapnya.
Mas’ud menyebutkan, total kebutuhan FAME Pertamina untuk dicampurkan ke solar subsidi dan non subsidi yaitu sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun.
“Total konsumsi solar subsidi dan non subsidi 29 juta kiloliter per tahun, ” ujarny
Mengenai sanksi denda sebesar Rp 6.000 per liter bagi badan usaha BBM yang tidak melakukan pencampuran FAME, Mas’ud menyatakan pihaknya akan berdiskusi dengan pemerintah terkait hal ini.
“Denda ini kami dukung supaya disiplin. Tapi kalau kondisi di lapangan suplai FAME-nya tidak ada, kami juga tidak bisa mengolah dan menyalurkan B20. Jadi ini harus didiskusikan lagi dengan pemerintah,” ujar dia.
Mas’ud menegaskan perseroan berkomitmen terus mendukung seluruh kebijakan pemerintah. Pertamina berharap perluasan penggunaan B20 pada produk BBM Diesel ini dapat mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan bagi kendaraan pribadi, sekaligus dapat mengurangi impor BBM sehingga akan berdampak pada perbaikan neraca perdagangan dan penggunaan devisa negara.

Pada dasarnya, menurutnya, PT Pertamina (Persero) mendukung kebijakan mandatory Biodisel 20 persen (B20) yang dicanangkan pemerintah mulai 1 September 2018.
Saat ini 112 terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina telah siap mengolah minyak sawit (Fatty Acid Methyl Esters/FAME) untuk dicampur ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar guna penerapan B20 dan menyalurkannya kepada masyarakat.

Penulis : Erlangga Djumena

Sumber: Kompas.com