B50 dan Masa Depan Energi, Politeknik LPP Bahas Peran Sawit untuk Ketahanan Energi
B50 dan masa depan energi menjadi salah satu pembahasan utama dalam Chemical Engineering Special Event (Cheese) 2026 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri (Himatekim) Politeknik LPP Yogyakarta. Seminar ini mengangkat tema “Kontribusi Sektor Perkebunan dalam Ketahanan Pangan dan Energi: Peluang Menuju Keberlanjutan” dengan menghadirkan akademisi, mahasiswa, dan praktisi industri untuk membahas masa depan perkebunan, khususnya dalam pengembangan bioenergi.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Himatekim Politeknik LPP Yogyakarta, Rizki Armanda. Ia menyampaikan bahwa sektor perkebunan memiliki posisi penting dalam mendukung ketahanan pangan, energi terbarukan, sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Rizki, mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri memiliki peran untuk melihat potensi tersebut dari sisi teknologi, terutama melalui inovasi, pemanfaatan limbah, serta pengembangan proses industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Sebagai mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri, kita memiliki tanggung jawab besar untuk melihat potensi tersebut melalui inovasi teknologi, pemanfaatan limbah, dan juga pengembangan proses industri yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.
Apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan juga disampaikan oleh perwakilan Presiden Mahasiswa BEM KM Politeknik LPP Yogyakarta. Ia berharap seminar tersebut dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai sektor perkebunan sekaligus memberikan pengetahuan yang dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran maupun kehidupan profesional nantinya.
Sementara itu, Direktur Politeknik LPP Yogyakarta, Dr. Ir. M. Mustangin, S.T., M.Eng., menilai Cheese 2026 menjadi salah satu ruang penting bagi mahasiswa untuk mendapatkan perspektif langsung dari dunia industri. Dalam sambutannya, Mustangin menyampaikan apresiasi kepada para narasumber serta APROBI dan GAPKI yang terus mendukung berbagai kegiatan Politeknik LPP, termasuk pengembangan mahasiswa. Ia menilai perkembangan industri kelapa sawit saat ini tidak dapat dilepaskan dari isu ketahanan energi. Indonesia, menurutnya, memiliki posisi strategis dalam pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit.
“Bioenergi dan industri kelapa sawit merupakan satu komoditas unggulan di Indonesia. Saya kira tema hari ini kaitannya dengan kontribusi sektor perkebunan dalam mendukung ketahanan pangan dan energi nasional dan harapannya akan terus lestari atau sustainable sampai masa yang akan datang,” ungkap Mustangin.
Mustangin juga menyoroti implementasi B50 sebagai salah satu perkembangan penting dalam pemanfaatan biodiesel di Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda untuk memahami lebih jauh perkembangan teknologi dan industri bioenergi.
“Ini adalah salah satu tolok ukur bagaimana Indonesia menempatkan diri dalam kompetisi di bidang bioenergi yang makin tinggi,” katanya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori di dalam kelas, tetapi juga mampu membawa ilmu tersebut ke dalam praktik industri.
“Ambillah ilmu yang diajarkan oleh para narasumber. Hal ini akan membekali mahasiswa semua dalam mengarungi industri perkebunan, khususnya di bidang pengolahan,” pesannya.
Memasuki sesi utama, Fajar Wahyudi, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), membahas perkembangan biodiesel Indonesia dan kaitannya dengan ketahanan energi nasional. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan energi Indonesia masih sangat besar, sementara produksi minyak bumi dalam negeri tidak sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Kondisi ini membuat pengembangan bahan bakar nabati menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Dalam pemaparannya, Fajar menguraikan perjalanan kebijakan mandatori biodiesel Indonesia hingga perkembangan penggunaan campuran biodiesel yang semakin tinggi. Salah satu perkembangan terbaru yang menjadi perhatian adalah penerapan B50, yaitu penggunaan campuran biodiesel berbasis minyak sawit dalam bahan bakar diesel dengan komposisi yang semakin besar.
Menurut Fajar, pengembangan biodiesel tidak hanya berkaitan dengan persoalan energi. Program tersebut juga memiliki hubungan dengan keberlanjutan industri kelapa sawit, termasuk penciptaan pasar domestik bagi CPO dan dampaknya terhadap rantai usaha perkebunan. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, pemanfaatan biodiesel juga memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi. Dalam paparannya, Fajar menunjukkan bahwa pengembangan biodiesel telah memberikan dampak terhadap upaya penurunan emisi gas rumah kaca.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam pengembangan biofuel dunia. Tingginya tingkat pemanfaatan biodiesel dalam negeri menunjukkan bahwa kelapa sawit tidak hanya memiliki peran sebagai komoditas ekspor, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Perspektif lain disampaikan oleh Muhammad Izuddin Bintua, yang membawa pembahasan mengenai keberlanjutan, teknologi, dan peran generasi muda dalam menjawab tantangan pangan dan energi.
Ia menjelaskan bahwa ketahanan pangan dan energi memiliki hubungan yang sangat erat. Aktivitas pertanian dan perkebunan membutuhkan energi mulai dari proses produksi, pengolahan hingga distribusi. Sebaliknya, sektor perkebunan juga memiliki potensi menghasilkan sumber energi baru melalui pemanfaatan biomassa. Berbagai hasil samping industri kelapa sawit seperti empty fruit bunch (EFB), palm kernel shell, fiber, dan limbah lainnya dapat dikembangkan menjadi sumber energi maupun bahan baku produk bernilai tambah. Menurut Izuddin, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keberlanjutan industri perkebunan.
Teknologi seperti drone, Internet of Things (IoT), sensor, precision farming, artificial intelligence (AI), dan data analytics dapat digunakan untuk membantu pengelolaan perkebunan, mulai dari pemantauan kondisi tanaman hingga pengambilan keputusan berbasis data. Ia juga mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi ikut mengambil peran sebagai inovator, peneliti, maupun penggerak perubahan di sektor perkebunan.
Sesi diskusi menjadi bagian yang cukup menarik dalam Chese 2026. Mahasiswa mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai B50, ketahanan pangan, keberlanjutan, pemanfaatan limbah sawit, deforestasi, hingga peluang generasi muda dalam industri bioenergi. Pembahasan juga menyinggung bagaimana pengembangan biodiesel dapat berjalan seiring dengan kebutuhan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Dalam diskusi tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa pengembangan industri perkebunan membutuhkan keseimbangan antara aspek ekonomi, energi, lingkungan, dan kepentingan masyarakat.
Isu traceability dan keberlanjutan juga menjadi bagian dari pembahasan. Mahasiswa mendapatkan gambaran bahwa perkembangan industri sawit ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga bagaimana industri mampu memenuhi tuntutan keberlanjutan dan standar yang semakin tinggi.
Melalui Cheese 2026, Politeknik LPP Yogyakarta ingin memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melihat sektor perkebunan secara lebih luas. Perkebunan bukan hanya soal menghasilkan komoditas, tetapi juga tentang bagaimana komoditas tersebut diolah, dimanfaatkan menjadi sumber energi, dikembangkan melalui teknologi, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Bagi mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri, perkembangan tersebut sekaligus membuka ruang kontribusi yang semakin luas, khususnya dalam bidang pengolahan, bioenergi, pemanfaatan limbah, efisiensi proses, dan inovasi teknologi. Cheese 2026 pun menjadi pengingat bahwa masa depan industri perkebunan membutuhkan SDM yang tidak hanya memahami proses teknis, tetapi juga mampu membaca perubahan teknologi dan kebutuhan industri. Dari ruang kelas, laboratorium hingga dunia industri, mahasiswa Politeknik LPP diharapkan mampu mengambil bagian dalam perjalanan menuju perkebunan Indonesia yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.