APROBI bongkar masa depan B50 di hadapan mahasiswa Politeknik LPP Yogyakarta dalam seminar nasional Chemical Engineering Special Event (Cheese) 2026. Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Fajar Wahyudi, hadir langsung di depan sekitar 200 mahasiswa untuk memaparkan perjalanan program biodiesel nasional hingga B50.
Seminar yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri (Himatekim) ini mengangkat tema “Kontribusi Sektor Perkebunan dalam Ketahanan Pangan dan Energi: Peluang Menuju Keberlanjutan”. Acara dibuka dengan sambutan Ketua Himatekim Rizki Armanda, perwakilan Presiden Mahasiswa BEM KM, dan Direktur Politeknik LPP Yogyakarta Dr. Ir. M. Mustangin, S.T., M.Eng. Mustangin berterima kasih kepada APROBI yang sudah bekerja sama dengan kampus sejak 2021, termasuk lewat program beasiswa.
Fajar membuka paparannya dengan kondisi energi nasional. Pada 2025, konsumsi BBM Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 605.300 barel per hari. Sisanya, sekitar 1 juta barel per hari, harus diimpor.
“Kalau pakai harga rata-rata OPEC tahun 2025 sebesar 75 dolar per barel, kita butuh kurang lebih 75 juta dolar AS per hari, atau sekitar Rp1,23 triliun per hari,” ujarnya.
Mandatori biodiesel dimulai pada 2008 dengan campuran 2,5 persen dan naik bertahap hingga B10 pada 2014. Saat itu harga sawit anjlok. Harga TBS petani swadaya di Riau hanya sekitar Rp400 per kilogram.
“Untuk menaikkan harga cuma dua, menurunkan suplai atau meningkatkan permintaan. Kalau menurunkan suplai, artinya panennya dikurangi, kan enggak mungkin,” kata Fajar.
Pemerintah kemudian membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) pada 2015. Dana pungutan ekspor sawit dipakai untuk menutup selisih harga biodiesel dengan solar. Dari situ, campuran naik ke B20 pada 2016, B30 pada 2020, B35 pada 2023, dan B40 pada 2025. B50 mulai berlaku 1 Juli 2026 dan diluncurkan resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026.
Menurut Fajar, Indonesia kini menjadi negara dengan campuran biodiesel tertinggi di dunia. Malaysia dan Thailand masih di kisaran B10 hingga B20. Meski begitu, ia meminta Indonesia mewaspadai Brasil. “Kalau mereka mengembangkan sawit, Indonesia bisa kalah, karena negara mereka luas dan dilintasi garis tropis,” ujarnya.
Tantangan berikutnya ada di kapasitas pabrik. Kebutuhan biodiesel pada 2027 diperkirakan mencapai 20 juta kiloliter, sementara kapasitas terpasang saat ini sekitar 22 juta kiloliter dan umumnya hanya bisa dipakai maksimal 80 persen.
Program B40 dan B50 disebut menyerap 2,1 juta tenaga kerja, menurunkan emisi setara 44,46 juta ton CO2, dan menghemat devisa Rp170 triliun. Fajar juga menepis anggapan bahwa biodiesel mengganggu pasokan pangan. Dari total produksi dan stok sawit, sekitar 24 persen terserap biodiesel dan 16 persen untuk pangan, sedangkan sisanya diekspor.
“Jadi kalau dulu dibilang biodiesel mengganggu ketahanan pangan, sebenarnya enggak. Yang terganggu mungkin pangsa ekspornya,” katanya.
Di akhir paparan, Fajar menyebut enam penerima beasiswa APROBI kini sedang kuliah D4 di Politeknik LPP. Ia meminta kampus terus menyiapkan SDM dan memperkuat riset untuk mendukung industri biofuel nasional.