Menapaki usia ke-29, Politeknik LPP Yogyakarta memperkuat peran dalam transformasi industri perkebunan melalui Seminar Nasional Perkebunan 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-29 Politeknik LPP Yogyakarta. Seminar mengangkat tema “Transformasi Perkebunan Indonesia Berbasis Komoditas Strategis Nasional Menuju Sistem Berkelanjutan, Unggul, dan Adaptif.”
Seminar nasional ini menjadi salah satu momentum penting dalam perayaan Dies Natalis ke-29 karena mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, industri, mahasiswa, dan pelaku sektor perkebunan untuk membahas arah perkembangan perkebunan Indonesia. Tidak hanya berbicara tentang kondisi perkebunan saat ini, forum tersebut juga membahas teknologi, riset, hilirisasi, produktivitas, keberlanjutan, hingga kebutuhan sumber daya manusia.
Dalam sambutannya, Direktur Politeknik LPP Yogyakarta menyampaikan bahwa tema transformasi perkebunan sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi sektor perkebunan saat ini. Menurutnya, komoditas perkebunan memiliki posisi penting bagi perekonomian nasional, tetapi ke depan pengembangannya tidak cukup hanya mengandalkan aspek teknis. Diperlukan pula penguatan pada sisi teknologi, sumber daya manusia, kebijakan, dan kolaborasi.
Seminar ini juga menjadi seminar nasional pertama yang diselenggarakan Politeknik LPP dengan cakupan peserta yang cukup luas. Tercatat 97 makalah dari 32 instansi yang terdiri atas perguruan tinggi, lembaga riset, sekolah, industri hingga instansi pemerintah. Para pemakalah berasal dari 16 provinsi, mulai dari Aceh, berbagai wilayah di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua Barat.
Sesi materi menghadirkan Ugun Untaryo, S.T., M.M., Direktur Strategy and Sustainability PTPN IV PalmCo, yang membawakan perspektif industri mengenai transformasi perkebunan. Dalam paparannya, Ugun menunjukkan bahwa transformasi bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah mulai diterapkan secara nyata di industri. Sejumlah pengembangan diarahkan pada teknologi hilirisasi, penerapan artificial intelligence (AI), serta pengembangan sektor energi dan teknologi yang masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Pembahasan tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa industri perkebunan ke depan akan semakin membutuhkan SDM yang mampu memahami perkembangan teknologi sekaligus melihat peluang penerapannya dalam proses bisnis perkebunan.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Ir. Iman Yani Harahap, M.Si., Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara. Dengan latar belakang panjang di bidang riset perkebunan, Iman Yani membahas perkembangan riset dan teknologi untuk mendukung perkebunan yang berkelanjutan. Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya teknologi adaptif. Menurutnya, teknologi yang terlalu canggih belum tentu menjadi solusi apabila tidak sesuai dengan kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur di lapangan. Karena itu, teknologi perlu disesuaikan agar benar-benar dapat digunakan dan memberikan dampak terhadap peningkatan daya saing perkebunan. Ia juga menyoroti persoalan produktivitas perkebunan, khususnya kelapa sawit. Keberlanjutan, menurutnya, harus tetap dibarengi dengan pertumbuhan produktivitas. Persoalan di sektor hulu juga perlu diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan hilir dan berbagai program downstream.
Perspektif berikutnya datang dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Dalam sesi tersebut, BPDP membahas pemanfaatan dana perkebunan untuk mendukung pengembangan sektor, termasuk riset, inovasi dan penguatan sumber daya manusia. Materi tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan dana perkebunan tidak hanya diarahkan pada satu kebutuhan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perkebunan yang lebih kuat. Kolaborasi antara lembaga pengelola dana, perguruan tinggi, peneliti dan industri menjadi penting agar dukungan yang diberikan dapat menghasilkan manfaat yang nyata.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian membawa perspektif kebijakan pemerintah melalui materi mengenai arah kebijakan dan strategi nasional perkebunan dalam mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan. Dalam pemaparannya disampaikan bahwa subsektor perkebunan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Pada 2026, subsektor perkebunan disebut memberikan kontribusi lebih dari 40 persen terhadap PDB subsektor pertanian. Kontribusinya terhadap ekspor juga sangat besar, sehingga peningkatan produksi, produktivitas, daya saing dan hilirisasi menjadi bagian penting dari agenda pemerintah. Pemerintah juga menempatkan ketahanan pangan, hilirisasi dan peningkatan daya saing sebagai bagian dari arah pengembangan subsektor perkebunan. Dengan potensi komoditas yang dimiliki Indonesia, pengembangan perkebunan ke depan tidak cukup berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah.
Berbagai materi yang disampaikan dalam seminar memperlihatkan satu hal yang sama: transformasi perkebunan membutuhkan kerja bersama. Industri membutuhkan teknologi dan SDM yang sesuai, riset perlu menjawab persoalan nyata di lapangan, pemerintah menyiapkan arah kebijakan dan dukungan, sementara perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menjalankan perubahan tersebut. Hal tersebut juga menjadi perhatian Yayasan Pendidikan Perkebunan Yogyakarta. Dalam sambutan yayasan, disampaikan bahwa tantangan seperti produktivitas, keberlanjutan, hilirisasi dan digitalisasi pada akhirnya bermuara pada kebutuhan terhadap SDM perkebunan yang kompeten, adaptif dan berkarakter. Karena itu, Politeknik LPP diharapkan tidak hanya mencetak lulusan yang memahami teori, tetapi juga tenaga profesional yang siap menghadapi persoalan nyata di kebun, pabrik hingga lingkungan pengambilan kebijakan.
Memasuki usia ke-29, Politeknik LPP Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai bagian dari ekosistem perkebunan Indonesia. Seminar Nasional Perkebunan 2026 menjadi salah satu bentuk kontribusi tersebut, dengan mempertemukan gagasan dari industri, riset, pemerintah dan dunia pendidikan dalam satu forum.