Politeknik LPP Sharing Bersama Petani Tepus Hadapi Perubahan Iklim dan Tentukan Masa Tanam

 


Politeknik LPP Yogyakarta mengadakan edukasi iklim untuk petani lahan kering. Acara tersebut berlangsung di Balai Kalurahan Tepus, Gunungkidul, pada Kamis (3/9/2026). Tujuan utamanya adalah membantu petani menentukan masa tanam secara tepat. Selanjutnya, program ini mengawali rangkaian kegiatan ketahanan pangan setempat. Sebagai pembuka, Camat Tepus, Hendro Pratopo, S.IP., meresmikan acara tersebut. Di samping itu, Kepala UP2M Politeknik LPP Yogyakarta, Dr. Anna Kusumawati, turut hadir mendampingi beliau.

Lebih lanjut, panitia merancang program ini guna melatih kemampuan petani membaca agroklimat. Hal ini dikarenakan perubahan pola musim di Gunungkidul menuntut adaptasi kalender tanam dengan segera. Akibatnya, para petani merasakan langsung dampak pergeseran musim hujan tersebut. Sebagai contoh, BMKG mencatat adanya pergeseran awal musim hujan sekitar 20 hingga 30 hari. Faktanya, fenomena ini telah terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Oleh karena itu, tim pemateri mengedukasi warga dalam membaca data cuaca. Untuk mendukung pemahaman, pemateri menggunakan proyektor LCD dan media belajar sederhana. Berkat metode ini, peserta menjadi lebih mudah memahami informasi cuaca secara cepat. Dengan demikian, petani kini bisa menyesuaikan pola tanam tradisional mereka dengan lebih akurat.

Selain mempelajari teori iklim, peserta juga mempraktikkan uji tanah secara langsung. Dalam kegiatan tersebut, mereka menggunakan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) di lahan percontohan. Adapun luas area demplot tersebut mencapai 1.000 meter persegi. Kemudian, tim ahli mengajak petani menguji tanah memakai reagen portabel. Secara khusus, proses ini mengukur kadar Nitrogen, Fosfor, Kalium, pH, serta C-Organik. Tujuannya agar petani belajar menganalisis kondisi lahan mereka secara mandiri.

Berdasarkan hasil tes, kondisi tanah menunjukkan sifat sedikit masam dengan pH 5–6. Di samping itu, kandungan C-Organik pada tanah tersebut juga tergolong sangat rendah. Oleh sebab itu, para ahli merekomendasikan aplikasi dolomit sekitar 750 hingga 1.000 kilogram per hektare. Selain itu, warga juga perlu menambahkan pupuk organik sebanyak dua ton. Demikian pula, pemakaian SP-36 dan KCl harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi lahan. Pada akhirnya, cara ini mampu mencegah kebiasaan pemupukan yang hanya berdasarkan perkiraan semata.

Sebagai langkah tindak lanjut, pihak kampus menyerahkan perangkat PUTK kepada kelompok tani setempat. Oleh karenanya, tim penyelenggara mendorong warga agar memakai alat ini pada musim tanam depan. Sementara itu, evaluasi panitia menunjukkan peningkatan pemahaman peserta hingga sembilan persen. Secara spesifik, skor rata-rata tes peserta naik dari 8,47 menjadi 9,24.

Tentu saja, masyarakat memberikan respons yang sangat positif terhadap pelatihan ini. Bahkan, tingkat kepuasan peserta mencapai angka 3,93 dari skala 4,00. Tidak hanya itu, semua petani menyatakan bahwa acara ini sangat membantu aktivitas pertanian mereka. Sebagai hasilnya, warga amat menginginkan adanya pendampingan berkelanjutan pada masa mendatang. Secara keseluruhan, lembaga ini sukses mendorong petani untuk mengambil keputusan berbasis data pengujian. Oleh karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan petani harus terus berjalan lancar. Kesimpulannya, penerapan teknologi baru ini pasti membawa manfaat yang sangat besar bagi masyarakat setempat.