Kebahagiaan Ala Ki Suryamentaram

Semua manusia pasti menginginkan kebahagiaan yang sejajar dengan iman, kesehatan, dan kesejahteraan. Fenomena ini memicu lahirnya berbagai buku best seller karya Martin E.P. Seligman hingga Gobind Vashdev. Namun, jauh sebelum tren literasi modern ini muncul, Indonesia telah memiliki pemikir besar yang merumuskan ilmu bahagia: Ki Ageng Suryomentaram.

Lahir pada 20 Mei 1892, putra ke-55 Sri Sultan Hamengku Buwono VII ini memilih jalan yang unik. Meskipun tumbuh di lingkungan keraton, ia justru menanggalkan gelar pangerannya. Perjalanan hidup membawanya menjadi rakyat biasa untuk memahami beban hidup petani, pedagang, dan kuli. Melalui laku spiritual di berbagai gua dan pengembaraan sebagai pekerja serabutan, ia akhirnya menemukan makna kebahagiaan yang ia sebut sebagai ilmu begja (keberuntungan).

Ki Ageng mengajarkan bahwa bahagia bukan berasal dari keberuntungan materi atau prestasi, melainkan dari manajemen rasa. Ia menekankan bahwa senang atau tidak senang bukanlah sebuah fakta, melainkan reaksi manusia terhadap fakta tersebut. Konsep ini serupa dengan teori stimulus-respons milik Steven Covey dalam buku Seven Habits of Highly Effective People.

Sebagai contoh, saat seseorang melihat tetangganya membeli mobil baru, ia memiliki pilihan reaksi. Seseorang mungkin merasa iri dan menderita pusing karena merasa tersaingi. Di sisi lain, tetangga yang bijak justru merasa bahagia karena ia tidak perlu lagi meminjamkan mobil tuanya atau merasa tenang karena ada tumpangan saat keadaan darurat. Pilihan respons inilah yang menentukan kualitas hidup seseorang.

Ajaran sentral Ki Ageng adalah filosofi Mulur Mungkret. Mulur berarti berkembang atau bercita-cita tinggi, sementara mungkret berarti mengecil atau menerima keadaan dengan syukur. Manusia sering kali menderita stres karena hanya bisa “mulur” tanpa mampu “mungkret”. Mereka terjebak dalam ambisi tanpa kesiapan untuk menerima kegagalan atau mengevaluasi diri.

Kontras dengan pemburu materi, para rohaniawan biasanya lebih piawai mempraktekkan mungkret. Mereka tidak berfokus pada apa yang ingin mereka miliki (to have), melainkan pada ingin menjadi pribadi seperti apa mereka (to be). Dengan menguasai nafsu dan keinginan, para rohaniawan mampu hidup tenang dan bahagia meskipun dalam kesederhanaan.

Mari kita lihat nasib si Banu, seorang kawan yang sukses secara materi namun gagal mengelola kebahagiaannya. Banu memiliki segalanya: jabatan tinggi, rumah mewah di mana-mana, hingga mobil mahal. Namun, kekayaan tersebut justru menjadi sumber penderitaan. Ia stres karena masalah anak-anaknya, tuntutan upah penjaga vila, hingga kerusakan mobil mewahnya.

Alih-alih menguasai harta, harta justru menguasai hidup Banu. Kelelahan mental ini memicu berbagai penyakit degeneratif yang akhirnya mengantarkannya ke alam baka. Kisah Banu membuktikan pernyataan Alexander dan Annellen Simpkins: orang kaya yang sebenarnya adalah mereka yang pandai menikmati dan mensyukuri hidup, bukan sekadar pemilik aset yang banyak.

Agar hidup lebih bermakna, kita sebaiknya menerapkan ilmu mulur mungkret secara seimbang. Kita boleh mengejar dunia dengan semangat tinggi seolah akan hidup selamanya, namun tetap menyiapkan batin seolah akan mati esok hari. Kita bisa saja menjadi manajer sukses yang kaya raya, asalkan tetap memiliki karakter rohaniawan yang penuh syukur.

Setelah bekerja dengan totalitas untuk mencapai target (mulur), kita perlu segera merefleksikan pencapaian tersebut (mungkret). Dengan mawas diri dan merayakan setiap hasil dengan rasa syukur, kita tidak akan diperbudak oleh ambisi. Inilah kunci kebahagiaan sejati: bekerja keras di dunia tanpa kehilangan ketenangan jiwa.

(Esmet Untung Mardiyatmo, Spiritualis | LPPCom vol. 18 no.1- 02-16)