Ekspor Teh RI ke Mesir Terus Meningkat

031485600_1565249413-iStock-1132930311

Kebun Teh Wonosari (sumber: iStockphoto)

Masyarakat Mesir menjadikan teh sebagai minuman utama. Semua kalangan masyarakat mengonsumsi minuman ini setiap hari di seluruh penjuru negeri. Selama dua tahun terakhir, ekonomi Mesir memang mengalami tantangan berat akibat program reformasi.

Pemerintah Mesir mulai mencabut subsidi bahan bakar dan listrik secara bertahap hingga tahun 2021. Kebijakan ini memicu laju inflasi yang cukup tinggi. Namun, konsumsi teh tetap tumbuh positif meski melambat. Warga Mesir menganggap teh sebagai kebutuhan pokok rumah tangga. Permintaan pasar pun tetap terjaga berkat pertumbuhan populasi yang pesat.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono, mendorong industri untuk mengembangkan produk teh baru. Produk inovatif menawarkan variasi rasa dan kandungan antioksidan yang lebih kaya bagi konsumen.

Pemerintah juga menjalankan program BUN-500 untuk membantu para petani. Program ini menyediakan benih unggul dan bermutu demi meningkatkan produktivitas nasional. Selain itu, pemerintah mengawasi standar kualitas mulai dari panen hingga pengolahan. Hal ini bertujuan agar produk teh Indonesia memenuhi syarat ketat negara pengimpor.

Pemerintah kini aktif mendorong pelaku usaha untuk menjajaki pasar baru. Fokus utama menyasar negara-negara dengan iklim subtropis, sedang, dan dingin. Berdasarkan data BPS tahun 2018, ekspor perkebunan ke Mesir mencapai 990,4 ribu ton dengan nilai USD 673,7 juta.

Saat ini, kelapa sawit masih mendominasi ekspor Indonesia ke Mesir sebesar 94 persen. Sementara itu, ekspor teh hitam dan hijau pada 2018 baru mencapai 199,6 ton. Pada semester pertama 2019, Indonesia telah mengirimkan 20 ton teh ke negara tersebut.

Saat ini, perusahaan Badawy & Sons Co memimpin pasar teh di Mesir melalui merek El Arosa. Produk teh hitam mereka unggul karena harga terjangkau dan jaringan distribusi yang luas hingga ke pelosok desa.

Meski demikian, konsumsi teh di Mesir terus naik rata-rata 5 persen setiap tahun. Kafe dan supermarket kini membutuhkan lebih banyak pasokan teh berkualitas. Tren ini membuka peluang besar bagi teh Indonesia. Produk seperti aromatic tea, white tea, dan black tea memiliki potensi ekspor yang sangat menjanjikan.