

Sebanyak 68 pekebun sawit asal Kabupaten Rokan Hulu (Rokhul), Riau, mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi panen dan pascapanen. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara BPDPKS, Ditjenbun, dan Yayasan Pendidikan Perkebunan Yogyakarta (YPPY).
Pelatihan Angkatan 1 dan 2 ini berlangsung selama lima hari, mulai 24 hingga 28 Juni 2024, di Pekanbaru. Sejumlah tokoh penting hadir memberikan dukungan, termasuk Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Syahrial Abdi, serta Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Rokhul, Agung Nugroho.
Oni Aprianto, perwakilan YPPY sekaligus Wakil Direktur III Politeknik Yogyakarta, menekankan pentingnya manajemen perkebunan yang modern. Beliau menyatakan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan teknis sekaligus kemandirian tenaga kerja lokal. “YPPY berkomitmen penuh membantu pengembangan industri sawit nasional melalui edukasi berkelanjutan,” ujar Oni.
Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam merespons pertumbuhan perkebunan sawit yang semakin progresif di wilayah Riau.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Rokhul, Agung Nugroho, menilai pelatihan ini sebagai jawaban atas tantangan di lapangan. Menurutnya, semakin luas lahan, maka semakin kompleks pula masalah yang muncul. Pekebun harus menguasai teknik panen yang benar agar produktivitas tetap optimal.
Herly Kurniawan, perwakilan Ditjenbun, menekankan pentingnya standarisasi dalam industri ini. Penguasaan kriteria matang panen dan teknik pemotongan buah yang tepat akan menentukan secara langsung kualitas Crude Palm Oil (CPO) yang pabrik hasilkan.
Kepala Dinas Perkebunan Riau, Syahrial Abdi, secara resmi membuka acara tersebut. Ia mengingatkan bahwa momen panen adalah waktu yang paling petani tunggu-tunggu. Namun, panen yang asal-asalan justru bisa merugikan di masa depan.
Syahrial menyarankan agar petani bersatu dalam kelompok besar atau koperasi yang kuat. “Dengan kelompok yang solid, jumlah produksi akan lebih tinggi dan daya tawar petani semakin kuat. Hal ini ujung-ujungnya akan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri,” tegasnya.
Para peserta menyambut positif inisiatif ini. Salah satu pekebun mengungkapkan bahwa materi pelatihan melengkapi pengetahuan yang mereka butuhkan selama ini. Mereka berharap penerapan teknik panen yang tepat dapat meningkatkan volume Tandan Buah Segar (TBS) dan mendongkrak penghasilan koperasi.