Investor Maroko Tanamkan US$800 Juta untuk Pabrik Gula Terintegrasi

pabrik gula

Tentu, mari kita rombak teks tersebut agar lebih dinamis dengan memperbanyak kalimat aktif dan memangkas kalimat yang terlalu panjang agar lebih enak dibaca.

Konglomerasi Maroko, Grup GDTC, menanam modal sebesar US$800 juta di Indonesia. Mereka akan membangun perkebunan tebu dan dua pabrik gula terintegrasi peternakan sapi di Timor Tengah Utara, NTT. Proyek ini mencakup lahan seluas 20.000 hektar.

Grup GDTC memayungi perusahaan baru bernama PT GDTC Majestic Agro Industri. Saat ini, perusahaan masih fokus pada tahap pembibitan tebu. Mereka memprediksi panen perdana akan berlangsung dua tahun lagi.

Berikut adalah rincian rencana infrastruktur mereka:

  • Pabrik: Dua unit pabrik akan berdiri di atas lahan 99 hektar.

  • Kapasitas: Pabrik memiliki kapasitas 6.000 TCD dengan masa operasi 200 hari.

  • Target Produksi: Perkebunan ini membidik produksi gula 600 ton per hari atau 110.000 ton per tahun.

Ahmad Bin Zuhir, Chairman GDTC Investments, melihat peluang besar dalam industri gula nasional. Ia mencatat bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor.

“Tahun lalu, konsumsi gula Indonesia mencapai 5,7 juta ton, namun pasokan dalam negeri hanya 3,5 juta ton. Akibatnya, kita harus mengimpor 2,2 juta ton gula,” jelas Ahmad pada Selasa (3/4).

GDTC memperkirakan kebutuhan gula tahun ini melonjak 25% atau sekitar 7,1 juta ton. Angka ini terbagi menjadi 3,5 juta ton untuk konsumsi langsung dan 3,6 juta ton untuk kebutuhan industri.

Kesenjangan pasokan serta keterbukaan pemerintah terhadap Penanaman Modal Asing (PMA) memacu Ahmad untuk berinvestasi. Ia optimis pengembangan perkebunan dan pabrik ini akan membantu memenuhi kebutuhan nasional.

sumber: bisnis.com