
Pemerintah saat ini mengembangkan strategi pembangunan bidang kemaritiman untuk mengejar ketertinggalan. Kebijakan ini selaras dengan tujuan pembangunan nasional yang tetap memposisikan Indonesia sebagai negara agraris. Sektor pertanian menjadi pilar utama yang menyokong pembangunan nasional tersebut.
Visi pembangunan nasional mencakup empat agenda strategis. Pertama, pemberdayaan ekonomi rakyat dan pengentasan kemiskinan. Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ketiga, pembangunan infrastruktur secara masif. Keempat, berbagai program penunjang pembangunan lainnya.
Kelapa sawit merupakan komoditas pertanian unggulan yang menyumbang devisa besar bagi negara. Saat ini, Indonesia menguasai 34,18% luas areal kelapa sawit dunia. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai pemilik perkebunan sawit terluas di tingkat global.
Status sebagai “Raja CPO” sejak tahun 2006 menjadi modal penting bagi perekonomian. Pemerintah memerlukan kebijakan nasional (National Policy) yang tepat untuk membawa Indonesia masuk ke jajaran 10 besar ekonomi dunia. Pertumbuhan industri sawit akan menjadi motor penggerak utama menuju status negara maju.
Data PBB memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia yang signifikan. Pada tahun 2033, PDB global akan meningkat dua kali lipat dari posisi tahun 2010. Puncaknya pada tahun 2050, ekonomi dunia diperkirakan mencapai 148.191 miliar USD berdasarkan harga konstan tahun 2005.
Kawasan Asia Timur akan memimpin pertumbuhan ini. Sejak tahun 1980, kawasan ini tumbuh rata-rata 8,2% per tahun. Pada tahun 2030, PDB Asia Timur diprediksi mencapai 21.073 miliar USD. Angka tersebut melampaui PDB Amerika Serikat dan Uni Eropa pada periode yang sama.
Ekonomi Indonesia menunjukkan tren positif yang konsisten. Indonesia berada di peringkat ke-32 dunia pada tahun 1980 dan diprediksi menembus peringkat ke-10 pada tahun 2050. Pemerintah menargetkan pertumbuhan PDB sebesar 6% per tahun hingga tahun 2030.
Secara nilai, PDB Indonesia akan terus membengkak. Pada tahun 2015, nilai ekonomi kita sebesar 481.000 juta USD. Angka ini akan melonjak menjadi 2,5 juta juta USD (2,5 triliun USD) pada tahun 2050. Pertumbuhan ini sejalan dengan perubahan posisi negara-negara besar seperti China yang akan menggeser Amerika Serikat dari peringkat pertama.
Peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan per kapita mendorong permintaan pangan global. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan konsumsi minyak nabati dunia. Pada tahun 2014, minyak sawit sudah menguasai 38,53% pangsa pasar, mengalahkan minyak kedelai dan rapeseed.
Tren dominasi sawit terus menguat hingga proyeksi tahun 2050. Ahli memperkirakan produksi minyak nabati dunia mencapai 358,56 juta ton. Minyak sawit akan memegang kendali utama dengan pangsa pasar mencapai 52,9%.
Keberhasilan Indonesia memimpin pasar CPO dunia sejak 2006 adalah pendorong utama ekonomi nasional. Pasar global yang terus tumbuh membuka peluang besar bagi Indonesia. Sebagai produsen utama, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk terus memimpin pasar minyak nabati dunia di masa depan.
sumber: sawit.or.id